Luka Tak Terlihat: Ketika Rabies Mengancam Ambon dan Masohi
Matahari tengah terik di Kabupaten Buru Selatan, ketika kapal berlayar tergesa menuju Ambon. Di dalam kabin, Calvin Papilaya, seorang pria muda terbaring gelisah, matanya tak lagi bisa menatap cahaya. Dialah almarhum calon pendeta yang seminggu lagi akan ditahbiskan. Namun, virus yang menggerogoti sistem sarafnya telah membuat tubuhnya memberontak.
“Saat itu dia sudah tidak bisa lihat cahaya, dan itu salah satu ciri awal,” kenang Pdt. Rudy Rahabeat, salah seorang tokoh agama yang mengenal dekat korban.
“Dokter bilang sudah tidak bisa terselamatkan. Jadi keluarganya cerita bahwa waktu itu dia kena gigitan kecil di tangan, sempat berdarah. Tapi karena pikirnya gigitan kecil, akhirnya tidak diberikan vaksin.”
Ketika kapal merapat di Pelabuhan Ambon, keluarga berharap RSU dr. M. Haulussy masih bisa menyelamatkan putra mereka. Namun harapan itu sirna ketika dokter menyampaikan vonis yang telah mereka duga: terlambat. Virus rabies telah menyebar ke seluruh sistem saraf pusat.
“Masuk RS sore, subuh meninggal, kondisinya memang sudah parah,” tutur Tenggo, sahabat korban, dengan suara bergetar. “Almarhum digigit itu akhir tahun 2022, lalu Maret 2023 almarhum turun vikaris, lalu Juni 2023 meninggal dunia.”
Tiga bulan. Itulah masa inkubasi yang membuat almarhum dan keluarganya lengah. Gigitan kecil di jempol tangan dari anjing peliharaan sendiri di Kota Ambon ternyata membawa malapetaka yang tak terduga.
Tragedi calon pendeta bukanlah kasus tunggal. Di balik kehidupan sehari-hari masyarakat Maluku yang tampak normal, rabies telah menjadi ancaman tersembunyi yang terus memakan korban.
Data terbaru dari WHO menunjukkan fakta mengejutkan: antara Januari hingga Juli 2024, 71 orang Indonesia telah meninggal karena rabies, dengan rabies yang endemik di 26 provinsi Indonesia dan 74 kasus rabies manusia dari 66.170 kasus gigitan hewan yang dicurigai terinfeksi rabies dilaporkan di Indonesia dari Januari hingga Juli 2023.

Di Provinsi Maluku, Kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah menjadi episentrum krisis ini. Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena mengungkapkan betapa parahnya situasi saat puncak krisis: “Pada saat itu gigitan anjing rabies sudah sangat banyak di Kota Ambon, dan data yang dimiliki pada saat itu ada ribuan kasus gigitan anjing. Korban sudah 700an yang digigit, dengan korban meninggal 6 orang.”
Di Maluku Tengah, Direktur RSUD Kota Masohi Anang Rumuar menyajikan tren yang mengkhawatirkan. Lima tahun terakhir mencatat lonjakan dramatis: dari 79 kasus gigitan pada 2019 menjadi 696 kasus pada 2023, peningkatan hampir 900 persen.
“Tahun 2023 KG 696, VAR 348 dan LISA 1. Di tahun 2023 ada satu kasus kematian karena pasien yang digigit tidak ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan tindakan penanganan,” papar Rumuar.
Krisis serupa menimpa banyak keluarga lain. Pdt. Rudy Rahabeat yang juga Wakil Sekretaris Umum (Sekum) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), mengalami langsung kepanikan ketika anaknya menjadi korban gigitan anjing.
“Anak saya pernah digigit anjing. Saat itu penangan pertama oleh ibu gurunya, luka dibersihkan menggunakan air dengan sabun batangan,” kenangnya.
Sebagai orang tua, langkah Rahabeat tidak berhenti di situ. Sang anak langsung dibawa ke rumah sakit. “Pihak rumah sakit bilang bahwa harus pergi beli vaksin rabies, karena panik saat itu apapun yang perlu langsung beli,” tuturnya.
Perjuangan mencari vaksin berubah menjadi nightmare. “Akhirnya ke apotik, saat tanya harganya per paket, harus beli dua paket. Paket pertama Rp.500.000 kemudian paket ke dua juga Rp.500.000, dan harus beli dua-duanya,” lanjut Rahabeat.
Dari situ dirinya mulai bertanya ke teman-teman, vaksin ini sebenarnya di mana, katanya ada vaksin gratis. “Mereka bilang itu adanya di puskesmas-puskesmas tertentu,” ujarnya.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



