AmboinaMaluku Tengah

Luka Tak Terlihat: Ketika Rabies Mengancam Ambon dan Masohi

“Almarhum sebenarnya orang yang peduli dengan sesama. Kalau dia masih hidup, pasti akan mendukung program-program pencegahan rabies ini. Kematiannya semoga menjadi pembelajaran bagi semua pihak,” ujarnya.

***

Saat sinar matahari sore menerangi Teluk Ambon, bayangan krisis rabies masih menghantui kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun di balik tantangan yang menggunung, terdapat secercah harapan dari pembelajaran dan adaptasi yang telah dilakukan.

Kisah almarhum calon pendeta yang membuka tulisan ini bukanlah sekadar tragedi individual, melainkan cermin dari sistem yang perlu diperbaiki secara menyeluruh. Gigitan kecil yang dianggap sepele oleh korban dan kerabatnya mencerminkan kurangnya literasi kesehatan masyarakat tentang bahaya rabies.

“Masyarakat harus tahu standar pengobatan saat terkena rabies, harus sama-sama saling mengedukasi. Karena anjing menggigit dia tidak lihat ini anak-anak atau orang dewasa,” pesan Pdt. Rahabeat yang sarat makna.

Pengalaman Wali Kota Ambon dalam menggunakan “ancaman KLB” sebagai strategi memperoleh perhatian dan bantuan pemerintah pusat menunjukkan kreativitas kepemimpinan lokal dalam menghadapi krisis. 

“Jadi soal KLB itu sebenarnya bukan soal ancamannya, tapi bagaimana kita butuh perhatian pemerintah pusat dan kesadaran masyarakat,” ungkap Wattimena.

rabies
Ilustrasi, anjing di kawasan Passo, Kota Ambon.(Foto: potretmaluku.id)

Sejalan dengan Rencana Strategis Global untuk mengakhiri kematian manusia akibat rabies yang ditularkan anjing pada 2030, WHO bersama dengan mitra One Health bersatu di bawah inisiatif ‘United Against Rabies’ untuk mencapai target ambisius tersebut. Maluku, dengan segala kompleksitas geografis, sosial, dan budayanya, menjadi laboratorium hidup untuk menguji efektivitas strategi eliminasi rabies.

Di ujung Teluk Ambon, matahari tenggelam meninggalkan semburat jingga di langit sore. Anjing-anjing dengan kalung merah, tanda telah divaksin, bermain di tepi pantai bersama anak-anak yang kini tahu cara berinteraksi dengan hewan peliharaan mereka dengan aman.

Ini adalah gambaran Maluku yang kita harapkan: tempat di mana manusia dan hewan dapat hidup berdampingan dengan harmonis, tanpa bayang-bayang ketakutan akan rabies. Sebuah visi yang dapat diwujudkan jika kita semua berkomitmen pada pencegahan, edukasi, dan penanganan yang komprehensif.

Karena pada akhirnya, tidak ada yang namanya gigitan kecil ketika berhadapan dengan rabies. Yang ada hanyalah kesempatan untuk mencegah, menangani, dan menyelamatkan nyawa, sebuah kesempatan yang tidak boleh kita sia-siakan lagi.(Tiara salampessy)


Hasil liputan ini merupakan dukungan program Jurnalisme Aman oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara.

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5

Berita Serupa

Back to top button