Pertama, teori konsentrasi, yang menjelaskan bahwa kampung terbentuk lantaran adanya konsentrasi penduduk di suatu wilayah tertentu, seperti sumber air dan tanah yang subur.
Kedua, teori difusi, yang menyatakan terbentuknya suatu kampung karena adanya difusi budaya dan teknologi dari suatu wilayah ke wilayah lainnya.
Ketiga, teori ekologi, yang mensyaratkan terbentuknya kampung pada adanya interaksi antara manusia dan lingkungan sekitarnya, seperti tanah, air, dan vegetasi.
Keempat, teori sosial bahwa struktur sosial dan hubungan antara penduduk, seperti keluarga, klan, dan suku, yang membentuk suatu kampung.
Kota-kota besar, yang kemudian menjelma menjadi metropolitan atau megapolitan, juga bermula dari kampung kecil.
Teori-teori perkembangan kota, dengan segala argumentasinya, selalu menyertakan kampung.
Berdasarkan sejarah kita di Sulawesi Selatan, Somba Opu berkembang setelah ibu kota Kerajaan Gowa-Tallo dipindahkan dari bukit Tamalate ke kawasan di dekat Sungai Jekneberang, pada masa pemerintahan Daeng Matanre Karaeng Manguntungi Tu Mapakrisi Kallonna, sekira tahun 1510.
Alasan pemindahan ibu kota oleh Raja Gowa IX tersebut, untuk menjadikan Gowa-Tallo sebagai kerajaan maritim dan bandar transito dengan Somba Opu sebagai pelabuhan dan pertahanan.
Tampak bahwa ada kombinasi alasan geografis, sosial, ekonomi, politik, dan militer, kala itu. Bisa dibayangkan, perkembangan kampung-kampung di situ, setelah perpindahan ibu kota Kerajaan Gowa-Tallo tersebut.
Kehadiran Kota Makassar, tak bisa dilepaskan dari sejarah Kerajaan Gowa-Tallo, yang mencapai puncak kejayaannya di masa Sultan Hasanuddin, 1653-1669. Namun, kemudian meredup pasca Perjanjian Bongaya, 18
Kehadiran kolonialisme Belanda tentu ikut mempengaruhi dinamika sosial dan lanskap Kota Makassar, yang sudah pasti mengikuti kepentingan mereka sebagai penjajah. Demikian halnya setelah Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan, pada 17 Agustus 1945, wajah kota ini kerap bersalin rupa, termasuk perkampungannya.
Makassar, misalnya, pada 1 April 1906, berstatus sebagai Gemeente atau Kotamadya, lalu berubah menjadi Kota Besar Makassar (KBM) di tahun 1950. Selanjutnya menjadi Daerah Tingkat II Kotapradja Makassar, tahun 1959.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



