Makassar dalam perkembangan berikutnya ditetapkan menjadi ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, tahun 1965. Masih di tahun yang sama, Daerah Tingkat II Kotapradja Makassar diubah lagi menjadi Daerah Tingkat II Kotamadya Makassar. Kala itu, wilayah administratifnya hanya mencakup 21 kilometer persegi, terdiri dari 8 kecamatan dan 48 lingkungan.
Pada tahun 1971, nama Makassar berubah menjadi Ujungpandang, pada era Walikota H.M. Daeng Patompo (1962-1978). Luas kota juga kian lebar menjadi 175,77 kilometer persegi, merambah sebagian wilayah Kabupaten Gowa, Maros, dan Pangkep.
Cerita masih berlanjut. Nama Makassar dikembalikan pada tahun 1999, menggantikan Ujungpandang. Ini terjadi di masa Walikota H.B. Amiruddin Maula (1999-2004). Sejak akhir tahun 2019, wilayah Makassar secara administratif terdiri dari 15 kecamatan dengan 153 kelurahan.
Dalam sebuah obrolan grup WhatsApp Forum Literasi Gowa, seorang anggota grup membagikan informasi berupa 75 Nama-Nama Kampung di Makassar, tahun 1893, yang menurutnya disusun oleh Kapitein der Infanterie Seyjdlitz Kurzbach, H.F.W.B.E., Biro Topografi Batavia.
Berdasarkan informasi itu, sejumlah nama-nama kampung yang disusun dari utara ke selatan dan selatan ke utara tersebut, banyak yang sudah berubah menjadi kelurahan/kecamatan di masa sekarang, dan ada pula yang sudah hilang atau menjadi bagian dari kelurahan lain.
Batavia merupakan ibu kota Hindia Belanda di masa kolonial. Pada tahun 1893, biro topografi di Batavia adalah bagian dari “Topografische Dienst van Nederlands-Indie” (Biro Topografi Hindia Belanda) yang dipimpin oleh seorang kepala biro (directeur).
Biro ini bertanggung jawab atas pembuatan dan penerbitan peta-peta di wilayah Hindia Belanda, yang dimanfaatkan untuk keperluan perencanaan infrastruktur, pembangunan, dan pertahanan. Rentang masa dari Abad XIX ke Abad XXI, tentu saja membuat banyak hal berubah. Nama-nama dan istilah-istilah berbau londo, ejaan lama, dan lain-lain tak lagi ditemukan.
Dalam kaitan inilah kehadiran buku “KAMPONG: Kisah Perkampungan di Makassar”, menemukan urgensinya. Perkembangan kota yang memberi konsekuensi terjadinya banyak perubahan itu, perlu direkam, ditulis, dan dibukukan.
Fakta-fakta menarik yang diungkap dalam buku ini, seperti kawasan Pecinan, Kampung Arab, termasuk perkembangan Makassar, dalam kaitan dengan jalur rempah, teramat sayang jika tidak terdokumentasi baik.
Menurut buku ini, ada empat elemen yang membentuk Makassar. Pertama, yakni kehidupan dalam benteng, dengan Fort Rotterdam sebagai pusat pemerintahan. Kedua, kampung yang berkembang di sebelah timur laut Fort Rotterdam, yang didominasi orang asing dan pendatang (Negory Vlaardingen), di antaranya orang-orang Tionghoa peranakan. Ketiga, permukiman di utara Vlaardingen yang dihuni oleh orang-orang Melayu. Keempat, kawasan permukiman di sebelah selatan Fort Rotterdam, yang kita kenal sebagai Kampung Baru.
Nasrul, merupakan sedikit di antara warga Makassar—penulis dan pekerja buku—yang menaruh perhatian terhadap kota ini. Dia mengingatkan kita akan pentingnya pengarsipan sejarah kota. Menurut pengakuannya, dia memiliki keterkaitan terhadap sejarah Kota Makassar, sejak bekerja sebagai jurnalis.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



