Pendapat

Kaka Pdt. Yosi Wospakrik, PhD: Dosen, Wali Studi dan Kakak Terbaik

IN MEMORIAM

Oleh: Izak YM Lattu (Pemerhati sosial budaya dan dosen pada Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (UKSW) serta Dewan Redaksi pada potretmaluku.id)


Tahun 1995 awal, Ka Yosi mulai mengajar di Fakultas Teologi UKSW. Februari 1995 itu Ka Yosi mengajar Pengantar Perjanjian Baru di kelas kami. Pendekatan Ilmu-Ilmu Sosial untuk memahami Perjanjian Baru yang dipakai sebagai pendekatan Ka Yosi sangat menarik. Apalagi Ka Yosi mengajar dengan sangat lembut dan sabar.

Kelas Pengantar Perjanjian Baru waktu menjadi kelas yang luar biasa. Saya sangat menikmati metode, pendekatan dan kebesaran hati Ka Yosi mendengar pendapat kami. Pendekatan ini sedikit berbeda dengan Pak Barling, dosen berkebangsaan Jerman, yang mengajar Bahasa Yunani pada Semester Ganjil 1994.

Pak Barling menekankan menghapal, sedangkan Ka Yosi lebih mendorong diskusi dan analisa sosial. Alhasil, saya menjadi satu dari sedikit mahasiswa yang tidak mengulang Tes Akhir Semester (TAS) Pengantar Perjanjian Baru.

Tahun 1997 ketika menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Teologi UKSW, saya mulai agak bolos kuliah karena kegiatan lembaga kemahasiswaan. Satu waktu karena rapat penting saya ijin tidak ikut TAS Agama Suku dan Kebatinan. Ka Yosi tidak marah karena rapat dan memberikan saya ijin dengan syarat: “Chaki, ko bikin resensi buku ini sebagai pengganti TAS,” kata Ka Yosi sambil menunjukkan buku “Mitos, Dukun dan Sihir” karangan Claude Levi-Strauss. Saya belum pernah bikin resensi sebelumnya. Hasil resensi itu kemudian dimuat di Jurnal Bina Darma No. 57 Tahun Ke-15, 1997. Itu jadi resensi pertama saya yang dimuat media.

Ka Yosi tidak menganggap kegiatan lembaga kemahasiswaan sebagai bagian terpisah dari kurikulum. Bagi Ka Yosi, mahasiswa tidak bisa belajar di kelas saja, tetapi juga lewat organisasi kemahasiswaan. Karena itu, Ka Yosi tidak melihat TAS sebagai alat ukur utama kemampuan mahasiswa di kelas.

Ka Yosi melihat keseluruhan keaktifan di kelas dan cara berpikir. Cara berpikir Ka Yosi ini persis dengan dosen Bahasa Inggris saya ketika Pre-Academic Program Fulbright di The University of Pennsylvania: “kalian yang akan ke California, sebaiknya bolos satu hari. Pergilah ke New York. Nanti di New York kalian bisa belajar banyak dari observasi kota itu. Hanya dua jam naik bus dari sini. Oh jangan bilang kalau saya minta kalian bolos,” begitu kata dosen saya. Intinya, antara Ka Yosi dan dosen UPenn itu sama: pengetahuan tidak hanya datang dari buku dan ruang kelas.

Tahun 1997 ketika Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) mulai digelar lagi, Ka Yosi sangat mendukung kami tim sepakbola. Perebutan Juara III antara Fakultas Teologi dan Fakultas Hukum jadi momen menarik. Suami Ka Yosi, Ka Dony da Costa bermain untuk Fakultas Hukum dan harus berhadapan dengan kami yang didampingi Ka Yosi.

Pertandingan seru, Ka Yosi tidak henti berteriak menyemangati kami dari pinggir lapangan. Kami menang 1 – 0 sore itu. Ka Yosi larut dalam sukacita bersama kami. Ka Yosi memang Kakak yang luar biasa. Mengajar dan berteman dengan mahasiswanya tanpa jarak sosial dan psikologis. Kehadiran Ka Yosi di dalam dan luar kelas selalu dinanti.

Ketika mengambil Mata Kuliah Teologi Agama-Agama dari Ka Yosi, saya betul-betul menikmati kelas ini. Paradigma berpikir tentang agama lain berubah menjadi lebih progresif. Pada kelas-kelas Ka Yosi saya bertemu dengan pikiran Pak Paul Knitter yang kemudian menjadi dosen kami di CRCS UGM dan memberikan saya rekomendasi untuk mengikuti seleksi Beasiswa Fulbright.

Ka Yosi, menciptakan kelas diskusi yang menarik dengan menghargai keragaman berpikir mahasiswa. Ka Yosi tidak pernah menyalahkan pendapat mahasiswa, apalagi mematikan keingintahuan dengan mengatakan pendapat atau pertanyaan mahasiswa keliru. Semua pertanyaan dan pendapat mahasiswa diberikan apresiasi oleh Ka Yosi. Kelas ini menjadi sangat seru dan memicu keinginan diskusi lebih mendalam.

Ketika mulai diterima sebagai pegawai UKSW, masih mengurus Jurnal Waskita tahun 2003 – 2005, Ka Yosi selalu mendorong dan memotivasi untuk melamar menjadi dosen di Fakultas Teologi UKSW. Tahun 2003 dan 2004 saya mulai membantu sebagai Dosen Bahasa Ibrani, kebetulan tahun 1999 pernah menjadi Asisten Dosen Bahasa Ibrani untuk Pak Henk Smith, tetapi belum jadi dosen tetap. Hanya dosen tidak tetap waktu itu. Ka Yosi selalu mendorong untuk berani saja melamar sebagai dosen tetap. Tahun 2005 saya akhirnya berani mendaftar dan diterima.

Waktu Kaka pulang dari UNSW setelah selesai kuliah S3, Kaka sempat mampir di Salatiga. Kaka dan Kaka Dony makan papeda bersama saya di Kemiri. Kaka cerita banyak tentang Tanah di mana Kaka lahir. Tanah yang menderita karena eksploitasi.

Saya ingat Kaka pung cerita di kelas  tahun 1997 tentang Manar Makeri. Cerita yang sangat dalam dan menginspirasi untuk cari pengetahuan dari masyarakat. Waktu kitorang tiga makan papeda hari itu, Kaka bahagia sekali karena selesai dan dapat PhD dari UNSW.  Kaka pung senyum itu tetap sama sejak Kaka masih mengajar kami.

Terimakasih banyak Kaka Yosi. Kaka sudah menyelesaikan pertandingan di dunia. Kaka telah mencapai garis finish sebagai penerima mahkota. Terimakasih Kaka untuk ilmu kelas dan ilmu hidup yang Kaka tabur bagi kami. Kalau saya bisa berdiri di titik ini, itu karena Kaka sudah memberikan teladan yang sangat menginspirasi. Terimakasih Kaka.

Bahagialah bersama DIA yang telah Kaka layani sepanjang hayat Kaka. Amin.

IMG 20210303 WA0039
Penulis, Izak Y.M. Lattu.

Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button