Amboina

Haji Misbach; Sosok “kiri” Tokoh Pergerakan RI yang Diasingkan Belanda ke Manokwari

Napak Tilas Jejak Sosok Pergerakan 

Keaktifannya di Indlandsche Journalisten Bond (JIB) menjadikan Haji Misbach akrab dengan Mas Marco Kartodikromo asal Salatiga. Dari sinilah Haji Misbach kemudian mengenal pemikiran Marxisme alias Komunisme yang disebutnya sebagai “Ilmu Komunis”. Kelak, Haji Misbach dikenal sebagai Muslim-Marxis atau Muslim-Komunis alias Muslim-Merah.

Sebenarnya, Haji Misbah adalah seorang muslim putihan alias muslim yang taat dan saleh terhadap agamanya. Oleh sebab itu, ketika ada penistaan terhadap agama Islam oleh kelompok agama lain, maka ia pun bangkit melakukan perlawanan. Tidak tanggung-tanggung, dia mendirikan perkumpulan –dengan tulisan aslinya– Sidik, Amanah, Tableg dan Vathonah (SATV). Dia juga bergabung dengan Tentara Kandjeng Nabi Muhammad (TKNM) yang dibentuk oleh Cokroaminoto.

Baca Juga: Pencipta Pataka Kodam XVI/Pattimura itu Kini Telah Tiada

Namun, kekecewaannya kemudian muncul ketika melihat organisasi Muhammadiyah justru kendur dengan kasus penistaan agama tersebut. Akhirnya kekecewaan tersebut semakin menumpuk dan mencapai puncaknya.

Haji Misbach sendirian menjadi sosok non-kooperatif terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Apalagi setelah dia mengorganisir massa buruh dan tani sehingga terjadi mogok massal, agitasi dan gangguan ketertiban umum. Beberapa kali Haji Misbach mencicipi dinginnya lantai ‘hotel prodeo’.

Puncaknya pada Juli 1924, Haji Misbach didampingi istri dan ketiga anaknya diasingkan ke Manokwari, Nieuw Guinea Utara, Keresidenan Ambon. Selama 20 hari  mereka mengarungi lautan dan singgah di 17 pelabuhan sepanjang Surabaya-Manokwari (Papua). Tepat pada 7 Agustus 1924 mereka pun tiba di Manokwari. Belum ditemukan catatan, dimana mereka ditempatkan saat itu.

Haji Misbach
Foto: Dok. Penulis

Setahun di Manokwari, istri Haji Misbach meninggal karena TBC. Begitu juga Haji Misbach sendiri wafat karena malaria, 24 Mei 1926. Sekelompok kecil anggota Sarekat Rakyat (SR) Manokwari menguburkan Haji Misbach di Pemakaman Kuno Penindi (Fanindi) yang terletak di atas bukit. Komplek kuburan itu sebenarnya adalah komplek kuburan Belanda dan China serta sebagian kuburan Makassar.

Dua bulan setelah Haji Misbach wafat, seorang anggota Sarekat Rakyat (SR) Manokwari mengantar ketiga anak almarhum ke Jawa. Jejak Haji Misbach pun terputus hingga di sini. Tidak ada catatan berikutnya yang mengisahkan keturunannya atau aspek lainnya termasuk lokasi tempat tinggalnya selama di Manokwari.

TANTANGAN BAGI PARA PENELITI

Saat ini tantangan terbesar untuk para peneliti adalah menguak jaringan Haji Misbach selama masa pengasingan di Manokwari. Sebab, meskipun dalam pengasingan, tulisan-tulisannya selalu muncul dalam surat kabar dan jurnalnya di Surakarta, Medan Moeslimin dan Islam Bergerak. Oleh sebab itu, tentu saja ada penghubung yang meloloskan risalah tersebut.

Baca Juga: Jelajah Situs: Belajar Toleransi di Kawasan Pecinan Kota Bandung

Tantangan berikutnya adalah menguak sejarah berdirinya Muhammadiyah di Maluku. Meskipun Haji Misbach sudah dikeluarkan dari Sarekat Islam (SI) dan Muhammadiyah, tetapi berdirinya Muhammadiyah di Maluku justru adalah andil dari Haji Misbach saat itu. Tanpa Haji Misbach, Muhammadiyah di Maluku tidak mungkin bisa berkembang sejak 1924 itu.

Tantangan yang lebih sulit lagi adalah melacak jejak keturunan Haji Misbach yang masih hidup saat ini. Dari ketiga keturunan anaknya –Suimati, Masduki dan Karobet– apakah ada yang pernah mengunjungi pusara buyutnya di Manokwari ini. Informasi terbaru, beberapa tahun lalu, ada keluarganya yang berkunjung ke Manokwari dan membangunkan cungkup makam serta pagar makam itu. Beberapa di antaranya mengenakan hijab panjang berwarna hitam.(*)

*) Selesai ditulis di Rumah Missi “Jang-e-Muqaddas” Arfai, Manokwari, Papua Barat pada Kamis, 1 Juli 2021 pkl. 08:45 WIT.

 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button