Amboina

Haji Misbach; Sosok “kiri” Tokoh Pergerakan RI yang Diasingkan Belanda ke Manokwari

Napak Tilas Jejak Sosok Pergerakan 

Begitu melihat suatu bangunan beratap genting baja ringan, penulis langsung menyatakan bahwa itulah lokasi makamnya. Makam itu sudah dipugar dan dikelilingi tembok serta diberi atap. Tampak dinding kayu dicat warna merah sedangkan dinding bata berwarna putih: merah-putih! Ini tanda yang jelas, bahwa ini makam sosok nasionalis.

Kini bangunan makam itu berada di bagian bawah, di atasnya ada semacam pondok kayu panjang. Beberapa anak muda sedang serius memainkan gawai di atas pondok itu. Mereka adalah orang asli Papua (OAP). Kelihatannya mereka tinggal di pondok kayu sebelahnya. Ternyata, mereka berasal dari Dataran Isim, Kabupaten Manokwari Selatan. Salah satu marganya adalah Ahoren.

Haji Misbach
Foto: Dok. Penulis
ANOMALI DI MAKAM HAJI MISBACH

Pintu teralis besi cungkup makam itupun dibuka. Penulis langsung masuk dan menuju makam di dalamnya. Ternyata ada tiga makam di sana: dua makam orang dewasa, satu makam anak kecil. Ada kejanggalan bila dikonfrontasi dengan informasi yang penulis dapatkan. Sebab, menurut salah satu sumber tertulis, ketiga anak Haji Misbach, semuanya diantar pulang kembali ke Jawa, dua bulan setelah ayahnya wafat.

Keanehan lainnya adalah nama pada batu nisan tertulis: Mangoen Dikromo, Meninggal Doenia 29 Maart 1921. Tahun 1921, Haji Misbach masih berada di Jawa. Artinya tidak mungkin itu meninggal di Manokwari, apalagi salah seorang dari anaknya: Suimati (13), Masduki (8) dan Karobet (6). Sebab, mereka sendiri baru tiba di Manokwari pada 7 Agustus 1924. Apalagi batu nisan itu kelihatannya bukan asli dari makam itu, baru disimpan belakangan.

Baca Juga: Kunjungi Lokus Perang Wamsisil di Saparua, Menguak Sosok Misterius Pattimura

Sedangkan dua makam orang dewasa di sebelahnya, (sementara) dapat dipastikan adalah makam Haji Misbach dan istrinya. Pada batu nisan pertama tertulis kutipan ayat Al-Qur’an dalam huruf Arab: “kullu nafsin dzaaiqatul-mawt” dan tulisan dalam huruf Latin: “Perintis Kemerdekaan RI, H. M. Misbah, Wafat Bulan Desember”. Ini juga ada keanehan lagi. Sebab, Haji Misbach wafat pada 24 Mei 1926 bukan pada bulan Desember.

Berdasarkan pengalaman penulis pada penelitian batu nisan sebelumnya di Maluku, keanehan itu dengan mudah terjawab. Berdasarkan data peristiwa yang sudah dikantongi penulis, pemugaran dan pemberian batu nisan itu dilakukan pada masa Wakil Presiden Adam Malik sekitar tahun 1980. Bahkan, Adam Malik (Wakil Presiden ke-3 [23 Maret 1978-11 Maret 1983]) yang konon memerintahkan pembuatan batu nisan tersebut dan membubuhkan keterangan “Perintis Kemerdekaan RI”.

Tampaknya, penulisan berikutnya –setelah tulisan pada masa Adam Malik itu pudar– terjadi kesalahan. Yang tadinya tertulis Mei 1926 berubah menjadi Desember. Jejak-jejak kesalahan penulisan itu dengan mudah dapat terbaca. Huruf “M” miring berubah menjadi huruf “D”, sedangkan angka 6 berubah menjadi huruf “b” miring.

Haji Misbach
Foto: Dok. Penulis
MENGENAL SOSOK HAJI MISBACH

Haji Misbach dilahirkan dengan nama kecil Achmad pada 1876 dari keluarga pedagang batik di Surakarta. Masa kecilnya dihabiskan dengan belajar agama di pesantren, juga pernah bersekolah di sekolah bumiputra Ongko Loro. Selain bahasa Jawa dan Melayu, Haji Misbach juga menguasai bahasa Arab.

Baca Juga: Napak Tilas Sejarah Leluhur, Genosida Wandan yang Nyaris Terkubur

Setelah menikah namanya diganti menjadi Darmodiprono. Begitu juga setelah menunaikan ibadah haji, menjadi Haji Mohamad Misbach alias Haji Misbach. Pergaulannya kemudian semakin meluas karena dikenal sebagai mubalig. Apalagi setelah bergabung dengan Muhammadiyah dan Sarekat Islam Surakarta. Haji Misbach pun berkenalan dengan H.O.S. Cokroaminoto, K.H. Ahmad Dahlan dan beberapa sosok lainnya.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button