Petro adalah sosok yang gandrung sekolah, tak cukup satu gelar sarjana dan dua gelar magister saja, tapi ia menambah gelar lagi, dimana ia melanjutkan pascasarjana dalam bidang lingkungan hidup dan kependudukan dari Universitas Katolik Leuven, Belgia hingga tuntas. Sampai kemudian ia terbang ke Spanyol, untuk menempuh kuliah program doktor di Universitas Salamanca, dengan mengambil jurusan administrasi bisnis, dan berhasil meraih gelar doktor. (Britannica, 2024, Uniades, 2024, Wikipedia 2024).
Saat usia 17 tahun Petro dilirik oleh Gerakan 19 April (M-19) kelompok gerilya Marxis. Cikal bakal lahirnya M-19, akibat ketidakpuasan hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) Kolombia, pada 17 April 1970. Pasalnya Misael Pastrana Borrero, yang diusung Front Nasional dari koalisi Partai Konservatif dan Partai Liberal yang menangkan Pilpres, dinilai para pendukung Gustavo Rojas Pinilla dari Aliansi Populer Nasional (ANAPO) curang. Kelompok sayap kiri dalam ANAPO itu selanjutnya bertransformasi menjadi M-19.(Britannica, 2024, Radionacional, 2022, Wikipedia, 2024).
Dalam perkembangannya M-19, tempat aktifitas Petro membuat sejumlah kekacauan, seperti penculikan pimpinan buruh di tahun 1976, penjebolan gudang senjata di Bogota di tahun 1979, dan penculikan tamu pesta koktail di Kedutaan Besar Republik Dominika di Bogotá di tahun 1980. Ia selalu dikaitkan dengan berbagai kasus keonaran itu.
Namun anggota M-19 mengatakan ia hanya terlibat dalam propaganda, untuk kepentingan organisasi pemberontak itu. Pengalamannya tatkala kuliah, dengan mendirikan surat kabar mahasiswa, yang rupanya berkontribusi baginya menjadi ahli propaganda organisasi berhaluan Marxis itu.
Meskipun aktif di organisasi pemberontak, namun ia memiliki sisi kemanusaan. Masa kecilnya di kawasan pertambangan garam Zipaquirá, Cundinamarca, tatkala ia menyaksikan kemiskinan yang kemudian membentuk sisi kemanusiaannya, untuk memperhatikan kaum papa saat ia aktif di M-19.
Ketika aktif di organisasi berhaluan Marxis itu, ia memimpin penyitaan sebidang tanah untuk menampung 400 keluarga miskin yang terpaksa mengungsi. Dalam perkembangannya, ia tak hanya mengandalkan gerakan bersenjata saja, namun juga memilih jalan non bersenjata.(Britannica, 2024, Wikipedia, 2024).
Pada tahun 1981 ia terpilih menjadi ombudsman Zipaquira, dan pada tahun 1984 ia terpilih menjadi anggota Dewan Kota. Meskipun sudah menduduki jabatan sipil, namun ia masi aktif di M-19. Pada bulan 1985, ketika menyamar sebagai seorang wanita, Petro ditangkap dan dipenjarakan setelah ia diketahui memiliki senjata api, dan bahan peledak rakitan secara ilegal.
Sekitar tiga minggu kemudian, ketika ia masih berada di balik jeruji besi, terjadi prahara. Organisasnya M-19 melakukan operasi yang paling terkenal yakni, penyerangan kantor Kehakiman di Bogotá, dan menyandera sejumlah orang.
Dalam serangan berikutnya terhadap gedung itu, sekitar 100 orang tewas, termasuk separuh dari hakim Mahkamah Agung Kolombia. Pada bulan Maret 1987 Petro dibebaskan, ia mengupayakan pembicaraan damai antara pihak M-19 dan Pemerintah Kolombia di era Presiden Virgilo Barco Vargas.
Upaya damai itu membuahkan hasil positif, dimana pada tahun 1990 ia dengan kawan-kawannya, yang terhimpun dalam M-19 mendapat amnesti dari Presiden Vargas. Organisasinya M-19 itu pun bertransformasi menjadi partai politik yang sah, Alianza Democrática M-19.
Usai tak lagi menjadi kombatan di organisasi berhaluan kiri, Petro mulai terjun ke pentas politik negara penghasasil zamrud itu. Sebagai anggota Partai Alianza Democrática M-19, ia pun mencoba peruntungan di pentas electoral, tak sia-sia upaya politiknya, Petro terpilih untuk duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kolombia pada Pemilu 1991.
Meskipun sudah berkarir sebagai angota parlemen, ia tidak sepi dari prahara politik, yang mengancam nyawanya. Petro pun harus hengkang dari negaranya di tahun 1994, dan dipercayakan menjadi atase diplomatik negaranya di Belgia.(Britannica, 2024, Artsandculture, 2024, Wikipedia, 2024).
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



