Di Kaki “Surga”, Gergaji Bernyanyi: Kisah Patahnya Konservasi di Kepala Madan
PENDAPAT
Dukungan terhadap pembangunan ekonomi lokal bukan hal yang keliru. Tapi jika dilakukan dengan menutup mata terhadap kerusakan yang merambat, maka kita sedang menabung bencana.
Coba tanyakan pada para nelayan yang mungkin mulai sulit mendapatkan ikan pelagis di sekitar Air Jin. Atau para pemandu wisata yang harus menjelaskan mengapa hutan bakau Sosolo kini mulai berubah warna. Bahkan keberadaan burung endemik yang menjadi buruan kamera lensa panjang wisatawan pun mungkin mulai sulit ditemukan.
Ironisnya, pemerintah daerah yang begitu semangat membangun destinasi wisata premium, justru tampak longgar dalam menyikapi hadirnya HPH. Tak banyak pernyataan tegas keluar, selain ajakan agar “masyarakat tetap menjaga lingkungan.”
Tapi bagaimana mungkin masyarakat menjaga lingkungan, jika hutan mereka diobral lewat izin legal formal yang justru datang dari lembaga-lembaga formal itu sendiri?
Situasi ini mengingatkan kita pada perdebatan klasik: antara ekonomi dan ekologi, antara pembangunan dan pelestarian. Tapi sebetulnya bukan pertarungan antara dua kutub. Pembangunan yang baik seharusnya berjalan seiring dengan pelestarian.
Sustainable tourism bukan konsep mistis; ia adalah bentuk keadaban baru, dimana wisata tidak hanya dinikmati hari ini, tapi diwariskan untuk generasi mendatang.
Sayangnya, di Kepala Madan hari ini, yang terlihat justru seperti dua panggung dengan aktor yang berbeda: satu mengenakan batik dan menyambut tamu di dermaga, satu lagi mengenakan rompi proyek dan sibuk menumbangkan pohon di balik tebing.
Ini bukan sekadar tentang pariwisata atau kehutanan. Ini soal arah. Soal nilai. Soal pilihan kita sebagai masyarakat yang katanya peduli pada masa depan.
Karena di balik keindahan laut biru yang viral di media sosial, ada akar-akar pepohonan yang diam-diam terpotong, membawa serta tanahnya, meracuni airnya, dan perlahan, merusak pondasi surga kecil yang sedang kita bangun.
Pertanyaannya kini: apakah kita akan terus membiarkan Kepala Madan menjadi kisah klasik tentang surga yang tumbang oleh gergaji? Atau justru menjadikannya cerita inspiratif tentang komunitas yang sadar, pemerintah yang tegas, dan masa depan yang tidak dipertaruhkan atas nama “pertumbuhan ekonomi jangka pendek”?
Karena cerita ini belum selesai. Ia bisa berakhir sebagai babak tragis, atau awal dari kebangkitan ekowisata sejati di Maluku.
Dan seperti semua kisah yang baik, akhir ceritanya tergantung pada keputusan yang diambil hari ini. Jadi, Kepala Madan, ke mana kau akan melangkah?(Embong Salampessy)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



