AmboinaInternasional

Ambon City of Music, Senyap dalam Gemuruh Dunia

PENDAPAT

Pagi itu, akhir Juni 2025, matahari Ambon belum terlalu tinggi ketika kabar itu tiba dari Paris. Bukan kicauan burung atau debur ombak yang biasanya mengiringi awal hari di Teluk Ambon, melainkan sebuah pengumuman dari Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNESCO.

Berita itu seolah berbisik, lalu perlahan menggaung di relung hati mereka yang peduli: Ambon City of Music, telah meraih predikat “Excellent”.

Ini bukan sekadar gelar biasa. “Excellent” adalah capaian tertinggi dalam jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN), sebuah rentang nilai antara 4.6 hingga 5.0—nyaris sempurna. 

Untuk memberikan konteks, perlu diketahui bahwa saat ini terdapat 350 kota di seluruh dunia yang tergabung dalam UCCN. Dari jumlah tersebut, hanya 59 kota yang diakui sebagai Kota Musik. 

Ini berarti capaian “Excellent” yang diraih Ambon di sektor musik bukanlah hal yang biasa-biasa saja; ia menempatkan Ambon di jajaran teratas dari kelompok elite yang relatif kecil ini. 

Bagi masyarakat Ambon, musik memang bukan sekadar melodi. Ia adalah denyut nadi yang hidup dalam bunyi tifa, syair tradisi yang diwariskan turun-temurun, hingga nada-nada pop Maluku yang mendunia. 

Musik adalah cara mereka bertutur, cara bertahan di tengah badai, bahkan cara menyembuhkan luka kolektif masa lalu. Dan kini, musik pula yang mengangkat nama Ambon harum di panggung global.

Maestro Pulang dengan Piala, Orkestra Diam di Sudut Kota

Bayangkan sebuah konser akbar di Wina. Seorang maestro asal Ambon baru saja memimpin simfoni yang memukau, membuat ribuan penonton berdiri dan bertepuk tangan riuh. 

Ia pulang ke kampung halaman dengan membawa piala emas berkilauan, wajahnya memancarkan kebanggaan dan kelelahan yang bercampur aduk. Namun, setibanya di bandara Pattimura, tak ada karpet merah. 

Tak ada barisan penjemput berseragam, apalagi sorak-sorai gegap gempita. Orkestra yang ia pimpin – kota ini sendiri – justru diam seribu bahasa. Sebuah ironi yang menyesakkan.

Di satu sisi, ada Ambon Music Office (AMO), sang “maestro” yang gigih bekerja dalam senyap di balik layar. Dipimpin oleh Ronny Loppies, Direktur AMO dan Focal Point Ambon UNESCO City of Music, mereka adalah arsitek laporan setebal itu. 

Laporan yang bukan hanya tumpukan kertas, melainkan narasi perjuangan dan dedikasi. Ronny menjelaskan bagaimana Ambon berhasil menunjukkan “hubungan yang mapan dengan sektor pendidikan dan publik, menghasilkan hasil yang bermakna secara lokal.”


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button