Kita cenderung merayakan yang kasat mata, yang bisa difoto dengan latar belakang spanduk besar. Sementara esensi budaya, meskipun membawa nama kota melambung tinggi, seringkali hanya dianggap sebagai urusan “seni-senian” yang tidak mendesak.
Bintang Itu Ada, Akankah Ia Pudar Sendiri?
Ketidakpedulian ini, atau paling tidak minimnya apresiasi publik, bukan sekadar soal etika. Ada harga yang harus dibayar. Semangat para seniman, guru musik, dan komunitas yang telah berjuang sejak Ambon ditetapkan sebagai City of Music pada 2019, bisa saja mengendur.
Mural musik di jalanan, kelas musik lokal di sekolah, atau panggung-panggung kecil di kampung-kampung yang mulai ramai oleh pentas anak muda, semua itu adalah buah dari semangat kolektif. Jika “Excellent” ini tidak dirayakan, apakah semangat itu akan tetap menyala?
Lalu ada potensi ekonomi. Predikat ini adalah magnet bagi pariwisata budaya, investasi di industri kreatif, atau bahkan kolaborasi internasional. Jika bintang ini tidak bersinar terang di kota asalnya, bagaimana ia bisa menarik mata dunia?
Apakah kita akan membiarkan “emas” ini terkubur begitu saja di bawah tumpukan dokumen birokrasi?
Ambon, dengan predikat “Excellent” yang berlaku hingga 2027, kini menatap masa depan. Laporan keanggotaan berikutnya akan dikirim pada tahun ini. Akankah “orkestra” ini akhirnya bangkit dari tidur panjangnya?
Akankah mereka menyadari bahwa setiap nada yang dimainkan, setiap lirik yang diucapkan, kini memiliki resonansi global yang luar biasa? Atau, apakah mereka akan membiarkan “maestro” AMO terus berjuang sendirian, sementara kota yang seharusnya merayakannya tetap sunyi, sibuk dengan “simfoni” lain yang mungkin kurang harmonis?
Kisah Ambon “City of Music” dan predikat “Excellent” dari UNESCO adalah sebuah permulaan.
Ini bukan akhir dari cerita, melainkan sebuah babak baru yang menuntut pertanyaan: Akankah Ambon belajar untuk menari di bawah sorotan panggung dunia yang telah ia raih, ataukah ia akan tetap bersembunyi dalam senyap, membiarkan bintangnya memudar sendiri?
Kisah ini belum usai, dan mata dunia, termasuk mata pembaca di sini, pasti akan terus mengawasi.(Embong Salampessy)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



