AmboinaInternasional

Ambon City of Music, Senyap dalam Gemuruh Dunia

PENDAPAT

Mereka menjalin kemitraan dengan kota-kota kreatif lain seperti Paducah di Amerika Serikat dan Jinju di Korea Selatan. Bahkan, proyek Sound of Green yang mengaitkan musik dengan pelestarian lingkungan musik sebagai medium kampanye penyelamatan hutan dan ekosistem, mendapat pujian khusus dari penilai UNESCO. 

“Ambon menggunakan keanggotaannya dalam Jaringan UCCN untuk mempromosikan berbagai praktik pembangunan berkelanjutan, partisipasi pemuda dalam inisiatif mereka sangat kuat,” demikian bunyi salah satu komentar dalam dokumen penilaian.

Ambon bahkan didapuk menjadi koordinator regional untuk sub-jaringan Kota Musik di Asia Pasifik. Semua itu adalah simfoni kerja keras yang membuahkan hasil luar biasa bagi kota ini.

Namun, di sisi lain, ada ibukota Provinsi Maluku itu sendiri, yang entah mengapa, terasa lesu. Nyaris tak ada gebyar perayaan yang seharusnya membahana di jalan-jalan. Tidak ada spanduk megah yang melambangkan kebanggaan. 

Bahkan, terkesan tak ada pernyataan resmi yang membahana dari para pemangku kebijakan, seolah predikat “Excellent” itu hanyalah selembar kertas administratif yang tak perlu dirayakan. Apakah ini sebuah kesibukan yang luar biasa? Atau, jangan-jangan, sebuah ketidakpahaman yang mendalam?

Ketika “Musik-musik” Kalah dari “Prioritas lain”

Perbandingan ini terasa begitu mencolok, seperti melihat dua potret yang kontras. Satu potret memperlihatkan wajah-wajah letih namun bangga dari tim AMO dan para pegiat musik, atas penghargaan yang diraih untuk kota ini. 

Potret lain menunjukkan para pemangku kepentingan kota ini, mungkin sibuk dengan urusan lain yang dianggap lebih “prioritas”.

Ini bukan soal membandingkan apel dan jeruk. Ini soal membandingkan nilai. Mengapa sebuah pengakuan global atas identitas budaya yang telah menjadi denyut nadi kota ini, seolah kalah pamor dibandingkan dengan aktivitas-aktivitas lain? 

Bukankah kebanggaan kolektif, identitas yang kokoh, dan potensi ekonomi kreatif yang lahir dari musik juga merupakan aset tak ternilai? 

“Pencapaian ini menjadi kebanggaan tersendiri,” kata Ronny Loppies. Namun, kebanggaan ini seolah hanya milik mereka yang mengerti, bukan milik seluruh kota.

Ada bisikan-bisikan di warung kopi, “Mungkin mereka tidak tahu bagaimana cara merayakannya.” Sindiran halus ini, meski terasa pahit, mungkin punya kebenarannya. 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button