Pendapat

Ketika Empati Meninggalkan Ruang-Ruang yang Seharusnya Paling Manusiawi

Oleh: Shuresj Tomaluweng (mantan Relawan Lembaga Antar Iman Maluku)


Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya beberapa hari terakhir: kapan terakhir kali kita benar-benar mendengarkan penderitaan orang lain sebelum menghakiminya?

Pertanyaan itu muncul setelah saya menerima kabar tentang keponakan perempuan saya yang dipulangkan dari sebuah sekolah dasar negeri di Kota Ambon karena melewatkan hari-hari pertama masuk sekolah.

Bagi orang dewasa, mungkin itu hanya persoalan administrasi atau disiplin. Namun bagi seorang anak, pengalaman pertama di sekolah akan tinggal lama dalam ingatannya. Yang semestinya menjadi hari-hari penuh kegembiraan justru berubah menjadi pengalaman yang menyisakan rasa malu dan luka batin.

Saya tidak hendak memperdebatkan aturan sekolah. Setiap lembaga pendidikan tentu memiliki tata tertib yang harus dihormati. Namun di balik setiap aturan, selalu ada manusia yang perlu didengar. Terlebih ketika yang berhadapan dengan kita adalah seorang anak.

Belum selesai kegelisahan itu, media sosial memperlihatkan wajah lain dari persoalan yang sama.

Pada 22 Juli 2026, seorang pengguna Threads dengan akun @yurizaltrich mengeluhkan pengalamannya menunggu ruang perawatan rumah sakit selama delapan jam. Unggahannya sederhana: “8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake BPJS.”

Alih-alih memperoleh simpati, unggahan tersebut justru dibanjiri komentar bernada menghina. Salah satu akun bahkan menulis, “Potong aja kak nadinya nanti juga cepet dapet ruangan.”

Komentar lain menyebut pengunggah dengan kata-kata kasar yang tak pantas diulang. Belakangan, publik menyoroti dugaan bahwa sebagian akun tersebut merupakan milik oknum tenaga kesehatan.

Dua peristiwa yang tidak saling berkaitan itu seolah dipertemukan oleh satu benang merah: hilangnya empati.

Yang satu terjadi di sekolah, tempat anak-anak belajar menjadi manusia. Yang lain terjadi di dunia kesehatan, tempat orang datang ketika tubuh dan jiwanya sedang rapuh. Ironisnya, keduanya berlangsung di ruang-ruang yang selama ini dipercaya sebagai tempat paling aman untuk memperoleh pertolongan.


Penulis :
Editor :

1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button