Ketika Empati Meninggalkan Ruang-Ruang yang Seharusnya Paling Manusiawi
Saya tidak sedang menghakimi profesi guru ataupun tenaga kesehatan. Sebagian besar dari mereka bekerja dengan dedikasi yang luar biasa. Banyak guru mengajar hingga pelosok negeri dengan segala keterbatasan. Banyak dokter dan perawat menghabiskan malam tanpa tidur demi menyelamatkan nyawa pasien.
Justru karena besarnya pengabdian mayoritas mereka, setiap tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan terasa jauh lebih menyakitkan.
Guru bukan sekadar penyampai pengetahuan. Seorang guru ikut membentuk harga diri seorang anak. Satu kalimat yang merendahkan dapat membekas bertahun-tahun, sama kuatnya dengan satu kalimat yang mampu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik.
Demikian pula tenaga kesehatan. Di ruang perawatan, pasien tidak hanya membutuhkan obat atau tindakan medis. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa penderitaannya dipahami. Dalam banyak penelitian mengenai pelayanan kesehatan, empati bahkan terbukti memengaruhi tingkat kepercayaan pasien dan kualitas hubungan antara tenaga medis dengan mereka yang dilayani.
Karena itu, empati bukanlah kemampuan tambahan. Ia adalah inti dari profesi-profesi yang bekerja untuk manusia.
Namun kita hidup pada zaman yang seolah semakin murah hati dalam memberikan penilaian, tetapi semakin pelit memberikan pengertian. Media sosial mempercepat segala hal, termasuk kemarahan.
Orang berlomba menjadi yang paling keras berkomentar, bukan yang paling mampu memahami. Dalam suasana seperti itu, belas kasih sering dianggap sebagai kelemahan, sementara sinisme dipandang sebagai kecerdasan.
Padahal, peradaban justru dibangun oleh kemampuan manusia untuk merasakan penderitaan sesamanya.
Pendidikan, agama, dan layanan kesehatan selama ini merupakan tiga pilar yang menopang kemanusiaan. Sekolah mengajarkan pengetahuan sekaligus membentuk karakter. Agama menanamkan kasih sayang dan penghormatan terhadap martabat manusia. Dunia kesehatan mengajarkan bahwa setiap nyawa memiliki nilai yang sama.
Ketika ketiga ruang itu mulai kehilangan empatinya, sesungguhnya yang sedang retak bukan hanya institusinya. Yang ikut retak adalah kepercayaan masyarakat.
Penulis :
Editor :



