Pendapat

Ketika Empati Meninggalkan Ruang-Ruang yang Seharusnya Paling Manusiawi

Kita mungkin masih mampu membangun gedung sekolah yang megah, melengkapi rumah sakit dengan teknologi paling mutakhir, atau mencetak semakin banyak lulusan bergelar. Namun semua itu tidak akan berarti apabila kita kehilangan kemampuan paling sederhana sebagai manusia: mendengar sebelum menghakimi.

Bangsa ini tidak sedang kekurangan orang pintar. Kita memiliki semakin banyak sarjana, profesor, dokter, ahli teknologi, dan profesional di berbagai bidang. Akan tetapi, kecerdasan tanpa empati hanya akan melahirkan manusia-manusia yang mahir bekerja, tetapi gagal memahami sesamanya.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban runtuh bukan karena kekurangan ilmu pengetahuan, melainkan karena memudarnya nilai kemanusiaan. Ketika manusia berhenti melihat manusia lain sebagai pribadi yang layak dihormati, maka yang lahir adalah kekerasan, diskriminasi, dan ketidakpedulian.

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya siapa yang paling benar. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita masih mampu berbelas kasih?

Sebab ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak hanya tercermin dari pertumbuhan ekonomi, kecanggihan teknologi, atau banyaknya penghargaan yang diraih. Kemajuan juga diukur dari cara bangsa itu memperlakukan mereka yang paling lemah: seorang anak yang ketakutan di sekolah, seorang pasien yang menunggu pertolongan, seorang warga yang datang membawa harapan.

Empati memang tidak pernah masuk dalam rapor sekolah. Ia juga tidak tercantum dalam ijazah, sertifikat profesi, ataupun gelar akademik. Namun tanpa empati, semua pencapaian itu kehilangan makna.

Pada akhirnya, yang akan dikenang dari kita bukanlah seberapa tinggi ilmu yang dimiliki, melainkan seberapa manusiawi kita memperlakukan sesama.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DIĀ GOOGLE NEWS


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button