Amboina

449 Tahun di Tengah Kesunyian: Refleksi HUT Kota Ambon dan Kontroversi Sejarah

PENDAPAT

De Macedo adalah Kapten “Nossa Senhora da Anunciada” sebelum kapten terakhir Gasper de Melo menyerahkan benteng ini kepada Belanda pada 1605, setelah kalah perang.

Dalam surat yang tersimpan di Seville, Spanyol, de Macedo menulis bahwa entitas awal Kota Amboina adalah 25 Maret 1576, ketika batu pertama Nossa Senhora da Anunciada diletakkan di tepi teluk bernama dataran Honipopu.

Saksi mata pada abad 17 dan 18, baik Rumphius, Valentijn, hingga Imam Rijali, menyebut penduduk Pulau Ambon ketika itu lebih mengenal benteng Portugis itu dengan sebutan “Kota Laha” yang berarti benteng (Kota) di teluk (Laha).

Data historis de Macedo ini ditemukan pada April 1928 dalam dokumen Tratado de las yslas de los Malucos (Traktat Pulau-pulau Maluco) yang tersimpan di pusat dokumen Archivo General de Indias (AGI) dalam bundel kearsipan berkode Filip. 18, Ramo 2, No. 46, tahun 1601. AGI menyimpan arsip-arsip paling dilindungi di Kota Seville, Spanyol (Schurhammer, 1970).

Saville adalah ibukota wilayah otonomi Andalucia yang merupakan kota terbesar keempat di Spanyol. Arsip-arsip kuno era Portugis banyak ditemukan di AGI di wilayah Spanyol.

Dapat dipahami, karena dalam kurun waktu 1580-1640 di era jayanya benteng Nossa Senhora da Anunciada, Portugis dan Spanyol masih menjadi satu negara di bawah pemerintahan Raja Philips III.

Sebuah anomali dari rekayasa sejarah dilakukan akademisi Universitas Pattimura (Unpatti. Tanggal 7 September ditetapkan sebagai hari lahir Kota Ambon, namun tahun yang digunakan malah 1575, (mungkin maksudnya 1576) mengacu pada peristiwa saat benteng didirikan.

Keputusan ini membuat Ambon menjadi satu-satunya kota di dunia yang kelahirannya begitu anomali. Tanggalnya diambil dari peristiwa yang berbeda dengan tahunnya.

Klaim akademis yang dipatenkan melalui seminar, menggeser narasi dan fakta sejarah yang telah mengakar ratusan tahun lamanya.

Rekomendasi seminar Unpatti tahun 1972 adalah penghianatan terhadap prinsip moral dan nilai-nilai akademis yang semestinya menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran, dan integritas akademik.

Di balik kesunyian HUT Kota Ambon Ke-449, muncul suara-suara menggugat. Seruan muncul dari generasi muda yang menghendaki sejarah tidak menjadi alat politik dan legitimasi.

Seperti karang di Laut Banda, kota ini tetap teguh menghadapi gelombang, berpegang pada keyakinan bahwa kebenaran seperti matahari, pada akhirnya akan terbit juga.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button