Bacarita “Amboina Menggugat” bertajuk “Anomali Kajadiang Kota Ambon” digelar komunitas anak muda Ambon bersama wartawan senior/sastrawan Rudi Fofid dan sejarawan Unpatti Johan Pattiasina di malam 25 Maret 2025, adalah bentuk kaum muda memuliakan sejarah yang terlupakan.
Rekayasa sejarah hari lahir Kota Ambon adalah cerminan dari bagaimana kekuasaan kolonial dilegitimasi sekelompok akademisi, untuk menggiring dan membentuk memori kolektif. Kini saatnya membongkar mitos tersebut, dan mengembalikan martabat sejarah pada fakta kebenaran.
25 Maret 1576 harus diakui, bukan hanya sebagai simbol kelahiran fisik kota ini, tetapi sebagai pengingat bahwa identitas Ambon dibangun dari percampuran budaya, perlawanan, dan pertahanan masyarakat selama lebih 4 abad lamanya.
Hanya dengan demikian, Kota Ambon dapat merayakan jati dirinya yang autentik, bebas dari belengggu narasi kolonial dan intelektual sesat.
Kesalahan tanggal ini bukan sekadar kesalahan teknis yang berkedok akademis. Ini soal siapa yang berhak menceritakan kisah ini.
Kita harus menghentikan distorsi untuk tidak melahirkan kebingungan pada generasi muda. Membiarkannya, serasa ada bagian dari tubuh kita yang sengaja diamputasi.
Mungkin kini saatnya Ambon merajut kembali memorinya. Seperti kata petuah, “Hanya dengan mengenal asal usul, kita tahu kemana harus berlabuh”. 25 Maret 1576 bukan sekadar angka, melainkan pengakuan bahwa kota ini lahir dari denyut nadi global, jauh sebelum hegemoni kolonialisme Belanda dan anteknya menuliskan versi mereka.
Revisionisme sejarah harus dilakukan untuk menghentikan denialisme atau distorsi akibat pemalsuan dan rekayasa fakta sejarah, entah itu melalui forum akademis guna menafsir ulang catatan sejarah, atau kita secara kolektif dan terus menerus membangun kesadaran publik lewat diskursus konstruktif.
Pemerintah dan DPRD Kota Ambon semestinya berpikir dan meninjau ulang kalender HUT Kota Ambon, dan tidak terjebak begitu saja dalam distorsi dan kepalsuan sejarah yang jelas-jelas nyata.
Mengoreksi tanggal lahir Kota Ambon, bukan semata tentang keakuratan sejarah, tetapi juga upaya dekolonisasi pengetahuan. Mengakui 25 Maret sebagai hari lahir Kota Ambon dapat merangkul identitasnya yang sejati, sebagai kota pelabuhan yang lahir dari interaksi global, jauh sebelum Belanda mengklaimnya.
Ibarat kata, kita tidak bisa berlayar jauh kalau jangkar kita palsu. Tanggal 25 Maret 1576 bukan hanya soal kebenaran sejarah, tapi ujian martabat, apakah kita akan membiarkaan generasi kedepan tumbuh dalam kebohongan, atau mengajarkan mereka bahwa sejarah memang kerap berdarah, tapi tak boleh dibungkam.
Sejarah mungkin bisa direkayasa oleh pemenang dan kaum terpelajar, tetapi tanah ini tak bisa berbohong. Di bawah fondasi benteng Nieuw Victoria, batu penjuru “Nossa Senhora da Anunciada” dari tahun 1576 masih menunggu untuk kembali bercerita.
Sejarah yang dipalsukan adalah penjara yang membelenggu. Mematahkannya adalah tugas kita!(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS




