Pendapat

Toko Buku di Makassar dan Keragaman Bacaan pada Masanya

Buku-buku yang saya beli di sini, antara lain “Kapitalisme Semu Asia Tenggara” yang membahas praktik perkoncoan penguasa-pengusaha dan militer. Buku dengan judul asli “The Rise of Ersatz Capitalism in South-East Asia” ini ditulis oleh Yoshihara Kunio, terbit tahun 1988.

Buku-buku lain, yang saya beli dan nanti jadi koleksi pribadi, antara lain buku-buku karya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal), Kuntowijoyo, Umar Kayam, Nurcholish Madjid (Cak Nur), serta catatan harian Soe Hok Gie, dan Ahmad Wahib. Nama-nama ini, bukunya cukup laris di masanya.

Masih ada toko buku lain, era 80an akhir hingga 90an, yang pernah saya datangi. Ada Toko Buku Pedoman Ilmu (Jalan Arief Rate), samping kantor redaksi koran Pedoman Rakyat, Toko Buku Hidayat (Jalan Gunung Lompobattang), milik keluarga Prof Achmad Ali, dosen kami di Fakultas Hukum Unhas, Toko Buku Palopo Ilmu (Jalan Pongtiku), Toko Buku Aswan (Jalan Gunung Merapi), dan Toko Buku Makassar Agung (Jalan Cenderawasih).

Masih ada lagi tempat penjualan buku, yang aslinya bukan toko buku. Namanya Duta Suara di Jalan Abd Wahab Tarru, tembus ke kawasan bisnis Somba Opu. Dari namanya, toko ini merupakan tempat penjualan kaset, yang sangat lengkap di zamannya. Bukan cuma kaset, segala pernak-pernak dan aksesoris musisi, penyanyi, dan supergrup mancanegara tersedia.

Salah satu buku yang saya beli di sini adalah buku Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII karya Barbara Sillars Harvey (Pustaka Utama Grafiti, 1989). Buku ini termasuk koleksi awal saya tentang sejarah Sulawesi Selatan, yang cukup membantu saya belajar memahami dinamika pergolakan politik dan militer di daerah ini.

Era 1950an

Beberapa warsa sebelumnya, tepatnya di tahun 1950an, sudah terdapat sejumlah toko buku di Makassar, bahkan ketika kota ini masih mencakup hanya 4 distrik (kecamatan). Keempat distrik dimaksud, yakni Makassar, Mariso, Wajo, dan Ujung Tanah. 

Total jumlah penduduk Makassar, kala itu, sebanyak 302.336 jiwa, tidak termasuk anggota Angkatan Perang dan Polisi. Namun, jumlah penduduk tersebut sudah masuk di dalamnya warga Tionghoa (44.797), Arab (1.304), Belanda (1.157), dan warga dari bangsa asing lainnya (104) jiwa. Penduduk yang asli bangsa Indonesia (WNI), merupakan warga dominan, jumlahnya mencapai 254.974 jiwa.

Daftar toko buku di Makassar, kala itu, bisa dilihat dalam buku Pedoman Kota Makassar, yang diterbitkan oleh Usaha Penerbit Tri Bakti, pada masa Walikota Makassar, Ahmad Dara Sjahruddin. 

Buku terbitan 5 Agustus 1954, yang memuat alamat-alamat jawatan, instansi, organisasi, dan perusahaan-perusahaan, sudah direncanakan sejak tahun 1951 oleh Djawatan Penerangan Kota. 

Buku Pedoman Kota atau Makasser Gids–dalam bahasa Belanda, artinya panduan atau petunjuk–ini diakui terbit pada saat yang tepat. Karena baru saja dilakukan perubahan besar-besaran terhadap nama-nama jalan di Makassar, kala itu, yang juga termuat dalam buku tersebut.


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button