Citizen

Suketi di Jalan Melati

Suketi terperangah. “Ap-apa?!” suaranya teredam bungkaman tangan sendiri. Sunyi seketika menguasai ruangan. Tapi keheningan itu hanya berlangsung sepuluh detik saja, sebab Arifin tiba-tiba sudah berada begitu dekat dengan punggungnya yang mulus terbuka lalu perlahan-lahan membantunya memasang pengait BH. Jarak yang sedemikian dekat membuat Suketi bisa merasakan embusan hangat napas lelaki itu di tengkuk lehernya.

“Dia dibunuh,” lelaki itu berbisik seakan sengaja memberi penekanan pada tiga kata tersebut. “Mayatnya ditemukan di pinggir sungai tak jauh dari sini. Dan, menurut informasi yang kami dapat, polisi menemukan selain luka tusukan di dada kiri, juga serpihan beling di kepala korban.””

Suketi kembali mengerjapkan mata. Be-benarkah? Dia membatin tak percaya. Kedua tangannya gemetar tanpa bisa dicegah.

“Anda sepertinya tidak terlalu terkejut,” kalimat tersebut bernada menginterogasi. Suketi serentak membalikkan tubuhnya, lalu mundur sejengkal hingga punggungnya menghantam lemari kayu. Suketi diam saja, lidahnya kaku. Tapi bagi Arifin Budianto, diam berarti mengiakan. “Apa sempat terjadi percekcokan di kamar ini sekitar dua jam lalu?” Lelaki itu masih enggan mengalihkan pandangannya dari wajah Suketi yang hanya berbalut seutas BH dan celana dalam.

Suketi menelan ludah getir. Matanya makin membelalak ketika mendapati lawan bicaranya tiba-tiba berjongkok di sebelah kakinya, memungut pecahan botol di lantai yang masih terdapat jejak darah yang tercecer di sana. “Ini darah siapa?” cecarnya kemudian. Detik itu Suketi merasa oksigen perlahan menjauhinya. Dadanya sesak sekali. 

“Kenapa Anda diam? Harusnya Anda bisa menjawab. Apa terjadi sesuatu di kamar ini, dan bagaimana bisa ada darah di beling ini?” Pertanyaan demi pertanyaan yang beranak-pinak terus saja disodorkan ke Suketi yang mendadak gagap. 

Suketi berdecak, lututnya gemetar. “Kenapa kalian memandangku seperti itu? Bukan aku pelakunya. Aku tidak membunuhnya!” Suketi menggigit bibir bawahnya sembari mengingat-ingat urutan kejadian sebenarnya. 

Dua jam lalu, Suketi dan Komandan Gunadi saling bergumul di ranjang hingga letih bersimbah peluh di sekujur badan. Hampir enam bulan mereka tidak bertemu sebab sang Komandan ditugaskan ke pelosok paling Timur Indonesia. Bayangkan, sebesar apa hasrat kerinduan berbaur gejolak birahi yang terpendam selama itu di benak sang Komandan. 

Dan untuk ke sekian kalinya, setelah surutnya dahaga lewat percintaan yang luar biasa hebat, yang membuat kamar indekos berantakan, botol-botol minuman terguling serta seprai kusut, Komandan Gunadi mengajak Suketi menikah siri, menjadi istri kedua. Sudah terlalu lama Komandan Gunadi menaruh harap agar bisa memiliki Suketi seutuhnya. Hanya untuk dirinya sendiri, sebab Komandan Gunadi tak pernah sudi melihat Suketi dijamah lelaki lain selain dirinya.

Namun, lagi-lagi Suketi menolak ajakan itu secara terangan-terangan. Bukan hanya penolakan, akan tetapi Suketi juga meminta sang Komandan untuk melupakannya. Malam ini sekaligus penanda malam terakhir mereka bertemu. 


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button