Citizen

Suketi di Jalan Melati

Suketi tak punya pilihan selain mengizinkan keduanya masuk dan melihat-lihat isi kamarnya yang berantakan, sementara dia melipir ke kamar mandi, melanjutkan mandinya yang tertunda.

“Kami mendapat laporan bahwa Komandan Gunadi sempat bertandang kemari selepas Maghrib. Apa benar begitu?” Lelaki itu bergumam lagi setelah puas memindai setiap inci ruangan indekos Suketi yang sempit dan sumpek. Cat dindingnya tampak tidak pernah diganti. 

Yang jelas sebagian dindingnya yang dicat berwarna biru muda itu telah pudar dan mengelupas, sebagian sisinya bahkan berjamur karena lembap. Botol-botol hijau bekas minuman beralkohol tegak berdiri di nakas, dan sebagian yang lain rebah bergelinding di bawah kolong tempat tidur karena tak sengaja tersepak kakinya.

Suketi yang sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan selembar handuk kecil, lekas saja mengiakan dari dalam kamar mandi. “Itu benar. Dia memang habis dari sini. Yah, dia memang sering kemari kalau sedang birahi,” dia menukas dengan sebenar-benarnya. 

Sejak kecil, Suketi sudah diwanti-wanti oleh mendiang ibunya untuk tidak coba-coba berkelit, apalagi bersilat lidah di depan tentara atau polisi. Menurut ibunya, tentara dan polisi adalah perpanjangan tangan Penguasa. Mereka dibekali senjata dan timah panas. Sedikit saja kau berkelit, maka bisa-bisa kepalamu dibikin pecah oleh peluru seperti kepala bapakmu, begitu yang dulu sering didengungkan ibunya. 

Tapi itu memang benar. Bertahun-tahun silam, bapaknya mati tertembak di kepala hanya karena bersikukuh mempertahankan tanah ulayat yang diambil paksa hak kepemilikannya oleh Negara untuk proyek perkebunan kelapa sawit.

Lelaki bernama Arifin Budianto itu kembali mengisap rokoknya, lantas mengembuskan asapnya di depan sebuah pigura berisi foto lama Suketi bersama seorang remaja laki-laki berkemeja kotak-kotak. Di foto tersebut Suketi terlihat seperti perempuan baik-baik sekaligus seorang ibu yang baik-baik pula, sebab mengenakan pakaian tertutup yang sebagian besar orang dianggap sopan, dan dandanannya pun tak semenor sekarang.

“Sebenarnya mau apa kalian kemari?” Suara Suketi terdegar penuh minat. 

Perhatian Arfin Budianto segera beralih ke arah Suketi yang tertangkap sudut matanya tengah berderap keluar kamar mandi dengan hanya berbalut selembar handuk tipis, yang lilitannya tak cukup mampu menyembunyikan payudaranya yang penuh serta pinggulnya yang sintal. 

Perempuan akhir tiga puluhan tersebut tampak begitu molek dan segar dengan rambut legam tergerai setengah basah. Tanpa sadar, lelaki yang diam-diam mengawasinya itu menelan ludah dan menyeringai samar. “Sudah berapa lama Anda berhubungan dengan Komandan Gunadi?”


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button