Suketi di Jalan Melati
Suketi terdiam, alih-alih menghitung. Lalu dia berdeham, “Mungkin tiga tahun, atau lebih sedikit. Entahlah, tidak penting juga dihitung. Tak ada gunanya!”
Bola mata Arifin sontak melirik ke wajah rekannya, Hardi yang sedari tadi hanya berdiri bersenderan membelakangi pintu. “Tapi, Anda tahu kan kalau komandan Gunadi sudah punya istri dan anak?”
Suketi yang sedang sibuk memilih BH dan celana dalam di dalam lemari mendadak ingin sekali tertawa terbahak-bahak usai mendengar pertanyaan basi semacam itu terlontar untuknya. “Ck, aku tahu kok. Komandan Gunadi bahkan secara gamblang memberitahuku soal anak dan istrinya.
Lalu, apa masalahnya? Lagipula ikatan di antara kami hanya sebatas perihal berhubungan badan saja, tidak lebih.” Suketi mengembuskan napas keras sambil memunggungi keduanya, “Astaga, jangan bilang kalian kemari karena diutus istrinya,” imbuhnya, lalu tanpa sungkan menanggalkan handuknya dan mulai berpakaian.
Demi apapun Suketi mana bisa melupakan wajah Miranda, istri sah Komandan Gunadi yang kaku itu. Terutama pada sepasang matanya yang seolah-olah mengandung bara api. Sebab bukan hanya sekali dua kali perempuan berpenampilan anggun dan terhormat itu datang menemui Suketi dan mengancam akan menghabisi nyawanya jika dia masih saja berhubungan dengan sang Komandan.
“Kenapa harus suamiku yang kauincar?” Hari itu suara Miranda terdengar dingin, dalam dan menusuk. Persis gelombang laut yang siap menghantam karang bebatuan.
Suketi tersenyum masam mendengar pertanyaan perempuan itu. Dia sungguh jengkel. Tapi Suketi tidak akan tinggal diam. “Aku tidak mengincarnya sedikit pun. Suamimu sendiri yang datang padaku. Seharusnya kau yang bertanya pada suamimu, kenapa dia masih saja datang mencariku untuk dipuaskan birahinya,” Suketi sejenak memandang profil Miranda agak lama sambil menjentikkan segumpal abu di ujung rokoknya.
“Lihat, Anda nyaris tanpa cela. Anda menarik, pintar, berpendidikan, dan kudengar Anda juga pandai sekali memasak. Jadi, apa sebenarnya yang kurang dari diri Anda, nyonya?”
Miranda hanya menjilat sudut bibirnya sesaat, lalu bangkit dan pergi begitu saja dengan langkah-langkah pelan dan teratur.
“Apa Anda sudah tahu?” Pertanyaan itu seketika merenggut Suketi dari ingatan sesaatnya pada Miranda.
“Tahu apa?”
“Baru saja, Komandan Gunadi dikabarkan tewas.”
Penulis :
Editor :



