Suketi di Jalan Melati
“Rumahmu bukan di sini, melainkan di rumah perempuan yang bertahun-tahun kamu nikahi. Jangan pernah lagi datang kemari menemuiku, wahai Komandan. Aku mohon.” Suketi mengatakannya dengan nada ringan dan tanpa ada unsur paksaan dari pihak mana pun.
Komandan Gunadi terjengat dan tertunduk bisu. Udara kamar yang semula hangat seketika berubah dingin menusuk permukaan kulitnya. Sungguh terluka egonya atas penolakan tersebut. Baginya, keputusan Suketi terdengar sangat keji sekaligus menakutkan. Dia seketika membayangkan setelah malam ini, hidupnya dipastikan mengambang laiknya balon udara tanpa kantong pasir dan jangkar.
Tanpa Suketi boleh jadi segalanya tak lagi manis dan melankolis. Lalu dengan tubuh telanjang, Komandan Gunadi beranjak turun dari ranjang, tergeragap memungut pakaiannya dan mengenakannya satu persatu dengan ringkas. Setelahnya, alih-alih berderap pergi, dia justru berdiri bingung dan canggung.
“Apa aku sudah terlalu tua untukmu?” Matanya menatap kosong ke wajah Suketi yang hanya berani menatap. “Kamu tahu aku sungguh-sungguh mencintaimu, Suketi. Aku rela melakukan apapun, asal aku tetap bisa menemuimu. Aku mohon, jangan pernah lakukan hal semacam ini padaku.” Sambil bergumam, tangannya membanting apa saja yang mengganggu pandangannya. Lelaki itu mendadak kalap. Yang terakhir, Komandan Gunadi meraih botol alkohol kosong di nakas lalu dihantamkan ke kepalanya berkali-kali hingga pecah.
“Jangan tolol!” Suketi terperangah mendapati lelehan darah mengalir dari kepala Komandan Gunadi, turun di antara pelipisnya lalu menetes di bajunya. Meski begitu tak secuil ekspresi rasa sakit tampak di wajah sang Komandan, bukti kesungguh-sungguhannya sehingga mengejap pun tidak. Namun Suketi tetap pada pendiriannya.
“Pulanglah, dan jangan pernah lagi datang kemari, menemuiku!”
Plak, plak!
Suketi dibuat sadar usai mendapati pipinya perih ditampar dua kali, bolak-balik. Bukan, bukan Arifin yang menamparnya. Melainkan Hardi yang sedari tadi hanya diam menonton. Demi Tuhan, lelaki itu sudah tidak tahan lagi. Rasa jengkelnya pada Suketi telah mencapai puncak kesabarannya.
Suketi mengerjap, meraba pipinya yang panas. Pusing membadai yang menyergap membuat tubuhnya oleng dan menabrak nakas kayu tua di sudut ruangan.
“Anda kan yang membunuh Papa saya? Saya bersumpah akan menggiring Anda ke penjara.”
Suketi mendongak. Apa tadi katanya? Papa?! Jadi, laki-laki bernama Hardi ini puteranya Komandan Gunadi.
Hardi yang gelap mata serentak mendorong kepala Suketi di nakas kemudian mencekik leher perempuan itu. Beruntung, peringatan Arifin segera menyadarkannya. Hardi lekas melonggarkan cekikannya, sementara Suketi hanya bisa terduduk lemas di lantai sambil terbatuk-batuk.
“Anda pasti membayar orang untuk membuang jasadnya di sungai, kan?”
Cuih! Suketi meludah kasar. “Omong kosong apa lagi ini?!” tatapannya sekejap berubah nyalang. “Bukan aku pelakunya. Aku tidak membunuhnya!” pekiknya. Tapi, sedetik kemudian Suketi sadar, percuma dia membela diri mati-matian. Tidak ada seorang pun yang akan bersimpati, apalagi percaya padanya sekali pun dirinya berkata sebenar-benarnya. Pertama; karena dia pelacur. Kedua; karena dia tak punya kuasa.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis :
Editor :



