Pendapat

Semesta Jurnalisme: Dari Gutenberg Hingga Zuckerberg

PENDAPAT

Hak atas informasi, hak kebebasan berpendapat dan berekspresi ini, selalu dikaitkan dengan kualitas demokrasi. Transparansi dan akuntabilitas oleh lembaga-lembaga publik, juga dihubungkan dengan seberapa mereka terbuka dan bisa diakses oleh pers/media massa.

Sedemikian pentingnya kedudukan pers/media massa, sehingga pers disebut sebagai pilar keempat demokrasi, di samping eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Namun, dalam menjalankan profesinya, para jurnalis tetap tunduk pada standar dan kode etik jurnalistik, P3 dan SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran), etika profesi, nilai-nilai dan kearifan lokal, serta hukum formal yang berlaku.

Sekadar berburu sensasi tapi kehilangan esensi, tak membuat media massa, laku dijual, apalagi dipercaya. Melakukan kontrol sosial memang menjadi salah satu khittah media massa, tetapi di sisi lain, mereka pun diawasi oleh regulator dan lembaga independen.

Karena itu, dijalankan pula jurnalisme makna dan jurnalisme positif. Sekarang bukan lagi “bebas dari” tapi “bebas untuk”. Makanya, fungsi media massa pada tataran ini tidak tunggal.

Kegiatan jurnalistik punya banyak fungsi, mulai dari fungsi ekonomi, fungsi informasi, fungsi edukasi, fungsi kebudayaan, fungsi integrasi sosial, fungsi peringatan lingkungan, juga fungsi dakwah.

Sungguh, jurnalisme itu sangat dinamis dan penuh warna. Praktik jurnalisme terus bertransformasi dan bermetamorfosis.

Berdasarkan gaya dan topik pemberitaannya, sebagaimana disebut dalam buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Sukardi Weda, “Mengenal Dunia Jurnalistik: Dari Ide ke Berita,” ini, terdiri atas Jurnalisme Damai (Peace Journalism), Jurnalisme Perang (War Journalism), Jurnalisme Pembangunan (Development Journalism), Jurnalisme Kuning (Yellow Journalism), Jurnalisme Umpan Balik (Clickbait Journalism), Jurnalisme Warga (Citizen Journalism), Jurnalisme Komunitas (Community Journalism), Jurnalisme Investigasi (Investigative Journalism), Jurnalisme Korporasi (Corporate Journalism), Jurnalisme Merek (Brand Journalism), Jurnalisme Dakwah, dll (Prokomsetda, 2029).

Selain itu, juga ada Jurnalisme Sastrawi, Jurnalisme Data, Jurnalisme Bencana, dan sebagainya.

Dengan model pendekatan yang sangat variatif seperti itu, maka dapat dipastikan betapa besar pengaruh jurnalisme dalam kehidupan dan kemanusiaan. Jurnalisme yang telah berlangsung lama, bertumbuh dan berkembang, ikut mendinamisasi kebudayaan dan peradaban umat manusia.

Sulit dibayangkan kita hidup bernegara dan bermasyarakat tanpa peran media massa, apa pun bentuknya, siapa pun pengelola, sesederhana apa pun itu.

Mengapa? Sebab jurnalisme punya kekuatan dan berdampak! Dalam hidup kita, media massa ikut memberi arah, jadi kompas dan panduan.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6Next page

Berita Serupa

Back to top button