Oleh: Joberth Tupan (Pendeta Gereja Protestan Maluku, Dosen Universitas Kristen Indonesia Maluku)
Di ujung barat Kepulauan Tanimbar, tempat sinyal seluler selalu menyerah pada deburan ombak, nelayan terus melempar kail berbalut doa ke laut. Bukan terasing, mereka sekadar tak terlihat di peta pembangunan yang lebih doyan deru pulau besar ketimbang desir pulau kecil.
Satu dekade silam, Pulau Bota (sebutlah begitu) terjerembap dalam senyap. Kapal-kapal nelayan Bali berhenti menambat, dicegat jaring regulasi. Penghasilan larut, harapan mengapung rapuh. Tak ada kartu nelayan, tak ada subsidi, bahkan statistik luput mencatat.
Sejumlah yacht turis Australia melintas, memberi isyarat peradaban. Namun, alih-alih menerima uang tunai, yang ditukar hanya bir kaleng. Ikan hasil peluh pun lenyap sebelum malam. Tanpa listrik, tak ada ruang untuk menunggu—dimakan, dijemur, atau dibusukkan waktu.
Musim muram tak berdiam selamanya. Usai badai Covid-19, sentra perikanan swasta merapatkan jangkar, membawa napas baru ke Pulau Bota. Lahir tengkulak, bukan lintah darat, melainkan simpul produktivitas. Di tangan mereka, laut dan darat berjabat.
Bagi nelayan, tengkulak adalah nama lain dari efisiensi. Ikan tak lagi membusuk, likuiditas kian subur. Sekali melaut, nyaris sampai Rp1 juta dibawa pulang. Dinding papan berganti batu, anak-anak belajar mengeja dunia pendidikan di kota-kota jauh.
Relasi transaksi pulau kecil bagaikan persekutuan. Bersama menanggung risiko, bersama menyusun harapan. Tak ada kontrak, hanya kepercayaan yang teruji ombak dan waktu.
RF, salah seorang tengkulak, kini punya lima perahu 3 GT dan memberdayakan 13 nelayan. Bukan jumlah armada yang mengangkat namanya, melainkan empati. Ketika sakit datang, tangan terulur. Ketika hari raya tiba, gudang dibuka.
Di pelelangan ikan sederhana, kemanusiaan tumbuh. JM, salah satu tangan setia RF, menyebut ritual melaut itu rutin, kecuali laut sedang garang. Alat pancing, bahan bakar, es balok, makanan, rokok, bahkan uang saku disediakan untuk ritual itu. Bonus datang saat rezeki melimpah, seolah laut tahu membalas. DH dan CS, nelayan lepas tanpa ikatan, tetap dijangkau.
Tak ada bunga dan ancaman ketika berutang, cukup diberi beberapa ekor ikan hingga lunas. Di pulau kecil, utang dibaca sebagai tanda saling menjaga.
Jaminan sosial tradisional lebih kuat dari meterai. MS dapat fokus pada usaha sampingan, tanpa berpikir keras mengelola ikannya, sebab telah diurus tengkulak. Sementara HB merasakan betul bagaimana sokongan itu mengalir untuk pertumbuhan gereja.
Tengkulak mampu menyalakan harapan kecil yang perlahan membakar ketidakpastian. Sebut saja tengkulak sebagai tol laut mini. Tanpa dermaga, harapan berlabuh di bibir pantai. Mereka menjembatani kampung dan puskesmas, mobilitas warga kian lancar.
Di tengah minimnya topangan negara, mereka hadir. Dalam narasi hitam-putih pembangunan, mereka jadi abu-abu yang menyelamatkan.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



