Maluku

Ratusan Ribu Bibit Rempah Terancam Terbuang, Mercy Barends Ajak Desa dan Swasta Bergerak

potretmaluku.id – Ratusan ribu bibit cengkih dan pala di sejumlah daerah di Maluku terancam tidak tersalurkan akibat kebijakan efisiensi anggaran. Kondisi itu mendorong anggota DPR RI asal Maluku, Mercy Chriesty Barends, menyerukan gerakan bersama untuk menyelamatkan bibit rempah agar tidak berakhir menjadi limbah.

Bibit-bibit tersebut berada di sejumlah lokasi Pulau Ambon seperti Liliboy, Hatu, Alang, dan beberapa wilayah lain di Maluku. 

Menurut Mercy, pengurangan anggaran pemerintah pusat maupun daerah menyebabkan tidak tersedia lagi dana untuk pembelian bibit.

“Bibit ini bukan sekadar tanaman. Ini adalah identitas, warisan leluhur, sekaligus sumber penghidupan masyarakat Maluku,” katanya saat berdialog dengan petani dan penyuluh pertanian di Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Senin, 20 Juli 2026.

Mercy mengatakan perhatian terhadap petani rempah bukanlah hal baru. Sejak dirinya masih menjadi anggota DPRD Provinsi Maluku, ia mengaku telah menyalurkan puluhan hingga ratusan ribu bibit cengkih dan pala ke berbagai wilayah, mulai dari Kabupaten Seram Bagian Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur hingga Maluku Barat Daya.

Menurut dia, keterbatasan anggaran tidak boleh menghentikan upaya membangun sektor rempah. Sebaliknya, kondisi tersebut harus menjadi momentum mencari pendekatan baru yang lebih kreatif.

Ia mendorong masyarakat mulai memandang lahan, dusun, maupun kawasan pesisir sebagai aset ekonomi keluarga yang harus dikelola secara produktif.

Selain itu, Mercy meminta penyuluh pertanian bersama masyarakat menghitung nilai ekonomi setiap kawasan produksi sehingga potensi rempah dapat dipetakan secara lebih jelas.

“Dusun-dusun rempah harus dilihat sebagai kawasan strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” ujarnya.

Ia juga menilai pengembangan sektor rempah tidak cukup berhenti pada budidaya tanaman. Pemerintah desa bersama masyarakat perlu membangun rantai nilai melalui pengolahan hasil menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah.

Setiap desa juga didorong mengidentifikasi keunggulan komparatif masing-masing sehingga mampu mengembangkan ekonomi lokal berbasis potensi yang dimiliki.

Mercy mengajak pemerintah daerah, perusahaan melalui program tanggung jawab sosial (CSR), serta BUMN untuk membantu penyelamatan bibit tersebut.

Menurut dia, pemerintah desa juga dapat memanfaatkan dana desa maupun sumber pendapatan lainnya untuk membeli bibit sehingga selain menyelamatkan tanaman, langkah itu juga menciptakan perputaran ekonomi antarwilayah.

Di sisi lain, Mercy menilai persoalan pemasaran masih menjadi hambatan utama petani rempah. Karena itu, ia mendorong pemanfaatan teknologi digital agar produk-produk unggulan Maluku mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Ia secara khusus mengajak generasi muda mengambil peran dalam pemasaran digital berbagai komoditas unggulan desa, mulai dari cengkih, pala, sagu, kelapa hingga hasil perikanan.

“Pemerintah desa harus mulai mengumpulkan anak-anak muda untuk mempromosikan produk unggulan desa melalui platform digital sehingga bisa dikenal hingga pasar dunia,” katanya.

Salah seorang petani muda dari Kecamatan Leihitu Barat, Yogi Risamasu, mengaku kehadiran Mercy memberikan semangat bagi petani muda untuk terus mengembangkan kebun warisan keluarga.

Menurut Yogi, bantuan bibit maupun motivasi menjadi modal penting agar generasi muda tetap tertarik mengelola sektor pertanian.

Ia mengatakan pemanfaatan teknologi di kalangan petani memang masih terbatas. Selama ini media sosial lebih banyak digunakan sebagai sarana promosi hasil pertanian sekaligus membagikan pengalaman bertani kepada masyarakat.

Sementara itu, penyuluh pertanian Kecamatan Leihitu Barat, Richard Amahorsea, mengatakan terdapat sembilan penyuluh yang mendampingi petani di lima negeri, yakni Hatu, Liliboi, Alang, Larike, dan Wakasihu serta kawasan petuanan Tanjung Sia.

Menurut Richard, tugas utama penyuluh adalah membina petani, termasuk mengajarkan pembuatan pupuk organik dan teknik pemanfaatan lahan. Namun, kewenangan penyuluh tidak mencakup pengambilan kebijakan strategis terkait kesejahteraan petani.

Ia menyebutkan pemerintah juga tengah menyiapkan program pengembangan pala melalui distribusi sekitar satu juta bibit pada tahun depan. Bibit tersebut direncanakan didistribusikan ke berbagai daerah, termasuk di luar Provinsi Maluku, dengan pusat distribusi berada di Kecamatan Seram Utara.

Richard berharap program tersebut dapat memperkuat pengembangan tanaman pala sekaligus mendukung peningkatan produksi rempah di Maluku.(ZAI)


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button