Sebab Kopi, Kita Pernah Berseteru
Karya: Rusdin Tompo*
kopi mempertemukan kita dalam rasa
sekaligus mempertentangkan kita di suatu masa
jauh sebelum dipanen dan disangrai
bahkan sebelum kental hitamnya jadi cerita kita sehari-hari
jalur bibit kopi dibawa melewati luas samudra¹
di dermaga ia diturunkan bagai anak asuh dengan samudana
lalu menyapihnya ke pegunungan Latimojong²
hawa sejuk memberinya kenyamanan
bertemu tanah gembur melebur tangan-tangan pekerja
keringat jatuh dibalas aroma
datang sebagai biji-bijian tumbuh sebagai keping mata uang
ditimbang tawar dalam silang persaingan
seteru pun tak terhindarkan
dua jaringan saling berhadapan
bukan untuk ngopi penghabisan
tetapi sebagai penegasan
bahwa perkopian punya bekingan
dan itu senyata nyawa pasukan
***
tarikh 1887 di Tallu Lembangna³
ketika wilayah adat masih berdaulat
para saudagar datang bukan cuma mencicipi kopi Toraja⁴
mereka mau kuasai sumber produksi dan jalur perdagangan
monopoli adalah kehendak para pedagang dari Luwu
sementara Lasokbaik⁵ tegas tak mau
ia memilih bersekutu dengan Enrekang dan Sidenreng
sebab Enrekang⁶ dan Sidenreng⁷
punya akses ke pelabuhan hingga jejaring perdagangan
maka pecahlah seteru itu
Toraja berubah jadi medan konflik seru
bukan hanya taktik dagang yang penuh intrik bertemu
melainkan ketegangan yang berujung perang⁸
lamat-lamat persaingan untuk saling lumat mereda
tetapi alarm waspada tetap nyala
***
seteru belum benar-benar usai
meski orang-orang terlihat ngopi bareng di kedai
aku coba baca cermat
lantas apa yang jadi sumber musabab
oouu rupanya soal rantai produksi, dan kendali wilayah
pasar, dan jalur pengangkutan juga diperebutkan
Bone dan Luwu masing-masing memperluas pengaruh
kopi Toraja nan menggoda kembali jadi sasaran
percik apa terlihat meningkat
tahun 1889 hingga 1890 dicatat sebagai pengingat⁹
Sidenreng dan Sawitto berkongsi
Luwu dan Bone berkoalisi
sementara warga Toraja terbelah beroposisi
Petta Ponggawae memimpin Songko’ Borrong¹⁰ dari Bone
ini bukan lagi seteru antar pedagang
karena militer kerajaan sudah ikut gelar pasukan
urusan ngopi kembali berubah perang
***
tersebutlah Pong Tiku, penguasa Pangala’¹¹
ia bersikap
memilih berpihak pada Sidenreng-Sawitto
ia menolak wilayah dan jaringan perdagangannya dikuasai
kopi dalam makna ini adalah kepentingan politik dan ekonomi
Tondon dikonsolidasi¹²
bagai benteng dengan fondasi harga diri
pasukan yang datang menyerang diterjang
perlawanan jadi diksi paling menggetarkan
wilayahnya bisa direbut kembali
walau sempat dikuasai
***
La Tanro Arung Buttu¹³ turun tangan
Raja Enrekang itu mengeluarkan maklumat
ia mau bentrokan gegara kopi segera tamat
posisi Enrekang memang seumpama pintu
lalu lalang pedagang
mobilitas manusia dan komoditas
dari dataran rendah ke pegunungan melewatinya
begitu pula sebaliknya
maka ketentuan dibuat sebagai pedoman
pihak Bone tidak boleh bawa kopi lewat jalur Bambapuang
untuk diteruskan melalui Sidenreng, Wajo, atau Luwu
sebagai gantinya
kopi diarahkan melalui jalur Alitta di Pinrang
konflik pun berakhir
semua legawa tanpa ada yang merasa kalah tersingkir
La Tanro bukan hanya bijak tetapi juga bajik
tradisi Lontarak¹⁴ mendaraskan maklumatnya
titah raja dirujuk sebagai panngadereng¹⁵ tata niaga kopi
perang berakhir, kopi mewujud medium diplomasi.
Makassar, Agustus 2026
*) Rusdin Tompo, kelahiran Ambon, 3 Agustus 1968. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi. Merupakan inisiator Komunitas Puisi (KoPi) Makassar, dan Koordinator Satupena Sulawesi Selatan.
Catatan kaki:
1. Kopi masuk ke Sulawesi Selatan melalui perdagangan dengan bangsa Arab, pada era jalur maritim. Kopi pertama kali dibudidayakan di wilayah Toraja setelah diperkenalkan oleh orang-orang dari Kerajaan Gowa-Tallo. Lontarak Bilang, yang merupakan catatan harian Kerajaan Gowa menyebutkan bahwa orang-orang Gowa berlayar membawa kopi ke Pelabuhan Suppa di Parepare, kemudian menuju Toraja dengan berjalan kaki melalui pegunungan Enrekang. Sumber lain menyebut, kopi dibawa oleh pedagang Gujarat dari Arab, dan ada pula yang meyakini bahwa kopi ditanam oleh Belanda di masa kolonial. Pada masa itu, para pedagang dari Jawa datang ke daerah ini membawa emas, porselen, tembikar, dan kain untuk ditukar dengan kopi. Baca https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Kopi, dan https://travel.tempo.co/read/623597/ketika-kopi-memicu-perang
2. Pegunungan Latimojong, yang disebut dengan julukan “Teras Sulawesi”, merupakan gunung tertinggi di Sulawesi. Puncak tertingginya, Rante Mario, berada pada 3.478 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pegunungan ini membentang dari wilayah Toraja, Enrekang, Luwu, Hingga Mamasa di Sulawesi Barat. Biji-biji kopi di kawasan ini, ditanam menyebar ke lereng-lereng gunung sekira tahun 1750. Baca https://travel.tempo.co/read/623597/ketika-kopi-memicu-perang
3. Tallu Lembangna meliputi Makale, Mengkendek, dan Sangalla. Pada masa itu, wilayah Toraja belum berada di bawah satu kerajaan, sehingga kawasan itu terdiri atas sejumlah wilayah adat dan pemerintahan lokal.
4. Di Toraja, kebun-kebun kopi menghampar di dataran tinggi Sa’dan, Awan, Sapan, Pedamaran, hingga yang tertinggi di Pulu-Pulu.
5. Lasokbaik adalah Raja Makale, yang mengatasnamakan raja di Tallu Lembangna, untuk meminta bantuan Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Enrekang, agar para pedagang Luwu menghentikan monopoli perdagangan kopi di Toraja.
6. Di Enrekang, kebun-kebun kopi pertama berada di daerah Pojappung, Nating, Bungin, Buntu Sarong, Rampunan, Pekalobean, dan Benteng Alla Utara. Kebun-kebun kopi tersebut berada pada ketinggian 1.000-2.000 mdpl. Pohon kopi typika, berusia sekira 300 tahun, malah masih dapat dijumpai di Dusun Katabi dan Nating, Desa Sawitto, Kecamatan Bungin, Kabupaten Enrekang. Typika merupakan jenis kopi pertama yang ditanam di daerah Pegubungan Latimojong.
7. Di Kerajaan Sidenreng terdapat pelabuhan, tempat memasarkan kopi, dengan nama Kopi Bungin. Sebelum Kopi Toraja mendunia, pedagang Eropa lebih dahulu mengenal nama Kopi Bungin, yang diambil dari nama pelabuhan. Adapun merek dagang ekspor untuk kopi dari Sulawesi Selatan, di masa colonial, adalah Kopi Kalosi. Kalosi merupakan nama pasar di Kabupaten Enrekang, yang punya posisi strategis karena berada di tepi jalur utama akses Toraja-Makassar. Ketenaran Pasar Kalosi akhirnya membuat semua kopi yang dierdagangkan di tempat itu disebut dengan nama Kopi Kalosi. Kini, nama Kalosi diabadikan sebagai nama Indikasi Geografis (IG) Kopi Enrekang, yakni “Kopi Kalosi Arabika Enrekang”.
8. Perang Kopi I beraawal dari masuknya pedagang Luwu dan Sidenreng ke Toraja untuk mencari kopi. Dalam catatan Lontarak Enrekang, disebutkan perang kopi itu terjadi pada tahun 1887-1888, gara-gara pedagang Luwu mau memonopoli perdagangan kopi. Jejak-jejak perang itu masih bisa dilihat dari adanya masjid-masjid yang tersisa di wilayah Toraja Utara dan Tana Toraja. Dalam buku “Sejarah Sosial Tana Toraja”, Terance W. Bigalke (Penerbit Ombak, 2016) menulis bahwa perang kopi membuktikan kopi dari Toraja dan Enrekang sudah lama jadi komoditas dating bernilai tinggi. Baca: https://jelajah.kompas.id/kopi-nusantara/baca/perang-kopi-hingga-pasar-kalosi/
9. Tahun 1889 hingga 1890, merupakan periode Perang Kopi II.
10. Songko’ Borrong merupakan sebutan untuk pasukan Bone, yang mengenakan penutup kepala atau songkok berwarna merah. Salah satu tokoh militer yang sering disebut dalam kisah Perang Kopi adalah Petta Ponggawae, sebagai panglima perang Bone.
11. Pong Tiku dikenal dengan nama Ne’ Baso. Kopi juga digunakan oleh Pong Tiku, saat memimpin gerilya melawan Belanda, caranya, menukar kopi dengan senjata.
12. Salah satu episode penting dalam Perang Kopi, terjadi di Tondon, kawasan yang berkaitan dengan kekuasaan Pong Tiku. Pasukan Bone menyerang dan sempat menguasai Tondon. Namun dalam perkembangan berikutnya, Pong Tiku bersama sekutunya berhasil merebut kembali wilayah tersebut.
13. La Tanro Arung Buttu, merupakan Raja Enrekang ke-14, akhirnya menemui pasukan Kerajaan Bone. Raja mengeluarkan maklumat, yang melarang mereka membawa kopi melewati Bambapuang (di Enrekang), Wajo, Sidenreng, dan Luwu. Mereka hanya boleh melewati Pinrang. Maklumat ini efektif, dipatuhi, dan menjadi solusi berakhirnya Perang Kopi. Pendekatan win-win solution ini, dapat diterima, karena tidak ada satu pihak yang keluar sebagai pemenang.
14. Dalam tradisi Lontarak Enrekang, penyelesaian yang diberikan La Tanro Arung Buttu kemudian melahirkan ketentuan mengenai jalur yang boleh digunakan untuk membawa kopi. Pengaturan ulang jalur perdagangan kopi merupakan kebijakan Raja Enrekang yang dipatuhi layaknya ketentuan hukum yang berlaku di masa itu. Lontarak merupakan aksara Bugis dan Makassar, dalam bentuk tulisan yang ditulis pada daun lontar. Aksara Lontarak mengalami perkembangan dan perubahan hingga abad ke-19. Lontarak berisi karya sastra, silsilah raja-raja, himpunan amanat, kronik sejarah yang berisi peristiwa-peristiwa penting dan sebagainya. Baca: Wahid, Sugira. 2007. Manusia Makassar. Pustaka Refleksi. Makassar.
15. Panngadereng merupakan adat istiadat dan sistem norma, bukan hanya ritual, melainkan system ketatanegaraan, hukum, moral, dan etika yang mengatur hubungan antar-manusia maupun antar-kerajaan. Dalam panngadereng terdapat Bicara (norma hukum), Rapang (norma keteladanan dalam kehidupan masyarakat), Wari’ (norma yang mengatur stratifikasi dalam masyarakat), dan Sara’ (syariat Islam). Baca: Padindang, Ajiep. 2018. Pemajuan Budaya Bugis, Budaya Sulawesi Selatan. Penerbit De La Macca. Makassar.
Penulis :
Editor :



