Pulau Tenggelam, Data Terbang: Ketika Krisis Iklim di Maluku Tak Pernah Masuk Headline
PENDAPAT
Ekoteologi dan Pamali: Ketika Roh Lebih Ramah dari Regulasi
Rektor UIN, Dr. Abidin Wakano, memperkenalkan konsep ekoteologi, bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman.
Pendekatan ini relevan, apalagi di Maluku, di mana spiritualitas dan alam tak bisa dipisahkan. Konsep pamali, larangan adat yang dianggap dihuni roh, sering kali menjadi kawasan konservasi efektif.
Ironisnya, ketika roh leluhur lebih dihormati daripada aturan pemerintah, kita harus bertanya: siapa sebenarnya yang punya visi jangka panjang?
Kita punya data. Banyak. Bahkan mungkin terlalu banyak.
Tapi kebijakan? Tambal sulam.
Kita butuh RPJMD yang benar-benar mengintegrasikan isu iklim. Kita perlu anggaran khusus untuk adaptasi di pulau kecil, bukan hanya perayaan “Hari Lingkungan Hidup” yang ditutup dengan nasi kotak.
Restorasi mangrove, pendidikan iklim di sekolah pesisir, partisipasi masyarakat adat dalam perencanaan pembangunan, semuanya bukan sekadar wacana. Tapi kebutuhan. Mendesak.
Akhir yang Masih Mengapung
Krisis iklim di Maluku bukan proyeksi masa depan. Ia sudah hadir di ladang padi yang tak tumbuh, di pantai yang menyusut, di laut yang tak lagi memberi.
Namun, di tengah laut yang memanas, ada harapan yang tetap dingin: dari sasi, dari pamali, dari komunitas yang masih percaya bahwa menjaga alam adalah menjaga hidup.
Pertanyaannya: Apakah dunia bersedia mendengar suara dari pulau-pulau kecil sebelum semuanya tenggelam?
Atau kita baru akan peduli ketika semua itu tinggal catatan kaki dalam laporan perubahan iklim yang kita tidak baca?
Karena jika pulau-pulau kecil tenggelam, mungkin yang selanjutnya adalah semua hal yang kita anggap besar.
Tulisan ini bisa terus berkembang. Seperti garis pantai yang terus berubah, cerita tentang krisis iklim di Maluku belum sampai di titik akhir. Dan mari kita bertanya lagi: siapa yang akan menuliskan bab berikutnya?(Embong Salampessy)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



