Pulau Tenggelam, Data Terbang: Ketika Krisis Iklim di Maluku Tak Pernah Masuk Headline
PENDAPAT
Bayangkan dua panggung:
Yang satu adalah ruang berpendingin di ibu kota, tempat konferensi iklim digelar. Ada slide penuh grafik, kopi mahal, dan jargon seperti “resiliensi” atau “transisi energi berkeadilan”.
Yang lainnya adalah ladang padi di Pulau Buru yang retak seperti kulit tua karena kemarau panjang. Petani menatap langit dengan pasrah, bukan karena tidak paham iklim, tapi karena hujan sudah lama tak datang, dan tikus datang duluan.
Panggung pertama penuh buzzword.
Panggung kedua penuh lumpur, air asin, dan ketakutan. Sayangnya, hanya panggung pertama yang masuk berita.
Musim Hancur di Pulau Buru
Di Pulau Buru, musim tanam nyaris batal tahun ini.
Langit mogok, tanah merekah, lalu datang hama seperti adegan kiamat kecil. Di pesisir selatan, air laut menyusup hingga ke sumur warga, bukan metafora, tapi fakta asin.
Sementara di bagian utara, tembok penahan ombak runtuh. Jalan desa tergerus seperti lembaran harapan yang dihapus gelombang.
Ini bukan cerita lokal. Ini bab pembuka dari naskah global yang kita abaikan: krisis iklim di pulau-pulau kecil.
Dan Maluku, dengan 1.340 lebih pulau, sebagian besar kecil dan berpenghuni, berdiri di garis depan pertarungan itu.
Ketika Pulau Kecil Berteriak, Tapi Jakarta Sibuk Selfie
Cuaca ekstrem, musim tanam yang tak bisa diprediksi, hasil laut yang menyusut, abrasi, hingga intrusi air asin adalah cerita sehari-hari di pulau-pulau Maluku.
Di Tual dan Banda, nelayan harus melaut lebih jauh. Di Seram dan Kei, hutan mangrove menghilang pelan-pelan.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



