Telusur Sejarah

Napak Tilas Sejarah Leluhur, Genosida Wandan yang Nyaris Terkubur*

ANALISA KHUSUS

Disusun oleh: Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan, Pembina Nasional Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAA-I) Manokwari, Papua Barat.

“Kalau kita baca Google, tidak ada catatan yang jelas mengenai pembantaian orang-orang Banda. Padahal, ada sekitar 15 ribu orang yang dibantai oleh VOC. Dengan tanpa peri-kemanusiaan, di bawah komando Jan Pieterszoon Coen, mereka dimutilasi menjadi beberapa bagian. Mereka yang tersisa lalu dibuang ke Batavia dan sebagian lagi ke Banten ….” (K.H. Dr. Karnusa Serang, M.Fils., Ketua PWNU Prop. Maluku)

PENGANTAR

KOMUNITAS BANDA atau oleh literatur Majapahit disebut sebagai Wandan cukup asing di telinga. Setidaknya hingga sebelum penulis jumpa dengan Kyai Karnusa Serang, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Prop. Maluku, pada kantor beliau di Tantui Atas, Nusaniwe, bulan Februari 2019 lalu.

Saat itu, di antara tema obrolan lainnya, Yai Karnusa –demikian beliau biasa dipanggil– mendadak menerangkan mengapa nama belakangnya menggunakan kata “Serang”. Bukankah itu nama suatu tempat di Jawa, tepatnya di Banten? Sebab, di Maluku ini ada dua jenis penggunaan nama belakang: nama marga dan nama asal tempat.

Karena nama Serang bukan merupakan nama marga, jelaslah itu merupakan nama tempat yang disematkan di belakang nama. Biasanya suku Buton di Maluku ini menggunakan cara ini. Selain kata La (laki-laki) dan Wa (perempuan) yang diletakkan di depan nama, pada nama belakang mereka juga biasanya berasal dari nama tempat.

Sejak itulah penulis mulai meneliti peristiwa ini. Beberapa tulisan mengenai Pulau Banda dilahap habis. Mulai ada titik terang hubungan antara Banda dan Banten sejak abad XVII itu. Ketika Batavia menjadi pusat Gubernur Jenderal VOC pada 1602, 19 tahun kemudian terjadilah peristiwa Banda.

Mengapa peristiwa ini memiliki nilai penting bagi penulis? Sejarawan mengatakan bahwa “historia est vitae magistra” (sejarah adalah guru dalam hidup). Namun, bagi penulis sendiri sejarah merupakan jatidiri. Dengan mengenal sejarah, maka kita akan mengenal jatidiri kita yang sebenarnya. Silsilah leluhur akan kita ketahui. Mengapa demikian?

Penulis memiliki ayah berasal dari keturunan Mataram Islam dan ibu dari Banten. Menurut kisahnya, keluarga dari pihak ibu sebenarnya bukanlah asli Banten. Namun, kata mereka, dari suatu daerah jauh di timur. Ratusan tahun lalu nenek moyang mereka tiba dan mendiami Banten. Kemudian pada masa pendudukan Jepang, keturunan mereka 12 bersaudara hijrah lagi ke Indramayu dari Banten dengan berjalan kaki.

MENGENAL GENOSIDA BANDA (WANDAN)

Banda pada Masa Awal
Ketika menulis mengenai wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit (1365), Mpu Rakai Prapanca dalam Kitab Kakawin Negarakertagama pupuh XIV bait 5 menyebutkan, bahwa dari delapan wilayah atau Hasta Mandala, kepulauan Maluku termasuk dalam Hasta VII. Mandala tersebut meliputi: Muar (Kei), Wandan (Banda), Ambwan (Ambon), Maloko (Ternate).

Mpu Prapanca menyebut Banda sebagai Wanda atau Wandan. Ini wajar, sebab dalam bahasa-bahasa tertentu terkadang mengalami perubahan bunyi (fonetik) huruf. Misalnya dari B menjadi W, B menjadi P, B menjadi V, B menjadi F dan sebagainya. Namun, apakah Wandan yang dimaksud adalah Banda yang sekarang sedang dibahas? Bisa kita telusuri juga dari kisah berikut ini.

Menurut Hikayat Tanah Lonthor, bahwa di Banda Besar kedatangan lima orang bangsawan. Mereka terdiri dari empat bangsawan laki-laki: Kakyai, Kelelaiy, Leleway dan Keleliang dan seorang bangsawan perempuan bernama Cilubintang. Bila dikaitkan dengan Babad Tanah Jawi, maka Cilubintang yang dimaksud adalah istri Raden Tanduran Raja Majapahit yang berasal dari Wandan (Banda).

Dari perkawinan yang disebut sebagai perkawinan politis ini lahirlah Bondan Kejawan. Kelak, Bondan Kejawan menikah dengan seorang “putri kahyangan” dan melahirkan seorang putra yang akan menjadi penguasa di Jawa yaitu Panjuwed. Dari perkawinan yang kedua, Ki Bondan memiliki seorang putra lagi yaitu Pamanahan. Panjuwed berkarya di Mataram, sedangkan Pamanahan di Pati.

Nama Banda juga disebutkan oleh beberapa penulis asing pada masa dulu. Tom Pires dan Antonio Galvao (1512-1515) dari Portugal menyebut nama Banda, baik bermakna tunggal maupun jamak. Tunggal untuk menyebut nama sebuah pulau yaitu Banda Besar, sedangkan jamak adalah merupakan nama untuk gugus kepulauan di Maluku.

Setelah Portugal, Belanda dan Inggris adalah dua negara yang juga pernah memperebutkan Banda. Pala dan fuli (bunga pala) menjadi daya tarik bangsa-bangsa asing tersebut. Bahkan Belanda bersedia menukar Manhattan dengan Pulau Rhun di Banda. Manhattan (Nieuw Amsterdam) diserahkan kepada Inggris, sedangkan Pulau Rhun menjadi milik Belanda. Ini adalah kesepakatan dalam Perjanjian Breda, 31 Juli 1667. Oleh sebab itu, tanpa Pulau Rhun atau Banda atau Maluku, maka tidak mungkin New York sekarang berbahasa Inggris!

Pembantaian di Banda (Genosida Wandan)
Kepulauan Banda –dalam arti jamak– didiami oleh sekitar 15 ribu jiwa, termasuk empat ribu jiwa “pria yang berperawakan tegap, bersenjatakan perisai dan pedang”. Menurut Tom Pires, etnis Banda awal “memiliki rambut panjang lurus” yang menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan orang Nusantara asli.

Pulau Banda sendiri –dalam arti tunggal– pada abad XVII itu hanya didiami oleh sekitar dua ribu orang, hampir seluruhnya muslim. Benteng pertahanan mereka lemah, bila tidak dikatakan tidak ada sama sekali. Dari sepuluh pulau disana, enam pulau berpenghuni, sisanya tidak didiami. Catatan VOC menyebutkan secara detil kondisi tiap pulau tersebut dari segi topografis, demografis dan ekonomis.

Adalah Kapten Jan Pieterszoon Coen pada 1621 itu menjadi penguasa VOC di Batavia. Bulan Mei 1621 terjadi pembantaian terhadap orang-orang Banda di berbagai pulau disana. Beberapa di antara mereka yang selamat kemudian pindah ke Pulau Seram, Pulau Haruku, Pulau Kei Besar dan pulau-pulau sekitarnya. Sedangkan sebagian lagi dibuang ke Jawa, di antaranya ke Batavia dan Banten.

Alasan pembantaian tersebut sebenarnya adalah upaya VOC untuk membuat koloni baru dengan pendatang dari luar Banda. VOC sangat marah melihat masih terjadinya “perdagangan pala dan fuli ilegal” yang dilakukan oleh penduduk Banda kepada bangsa dari Jawa, Makassar, China dan India serta bangsa asing lainnya. Padahal, VOC ingin memonopoli perdagangan pala dan fuli di sana.

Pembantaian besar-besaran itu diilustrasikan dalam film “Banda the Dark Forgotten Trail” arahan sutradara Jay Subiakto. Pemeo Melayu dengan pas menggambarkan bagaimana rakusnya kolonial Belanda dengan VOC-nya: “Bagai Belanda minta tanah, diberi sehasta minta sedepa”. Sudah diberi ijin dan lahan untuk tinggal dan mengelola perdagangan pala dan fuli di Banda, VOC minta lebih dengan monopoli dan kepentingan klasik 3G (Glory-Gold-Gospel).

Sebanyak 44 orangkaya alias ongka Banda mengalami pembantaian yang tidak terperikan. Mungkin inilah genosida pertama dalam sejarah Nusantara. Sesosok bayangan hitam bergaya rambut chonmage menebaskan katana, terarah pada tiga bayangan hitam lain yang bersimpuh dengan tangan terikat ke belakang. Tembok lusuh Benteng Nassau di Pulau Banda Neira, seakan menjadi kelir saat diterangi api blencong yang temaram dihembus angin.

Awan pekat menyelimuti langit Banda malam itu. 8 Mei 1621 menjadi hari nahas bagi 44 orang kaya Banda. Enam Ronin Jepang (samurai bayaran, tanpa tuan) diperintahkan masuk, memenggal kepala delapan orangkaya, membelah badannya jadi empat, dipancung dengan bambu, lalu memenggal sisanya yang masih hidup.

Waktu itu beredar mitos bahwa rakyat Banda adalah orang sakti, seolah memiliki kesaktian rawa rontek, sehingga untuk membunuhnya harus dimutilasi. Jacobus Anne Van Der Chijs menceritakan ulang kejadian itu dalam laporannya yang ditulis 50 tahun setelah VOC bubar.

Pembantaian pemuka masyarakat Banda dipimpin oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda keempat (1619-1623) dan keenam (1627-1629), Jan Pieterszoon Coen (berumur sekitar 32 tahun saat itu). Coen yang dijuluki “Mur Jangkung” makin pede melancarkan aksi kejinya karena didukung oleh komisaris VOC, Heeren XVII (1615).

Ia menganggap rakyat Banda sebagai pemberontak karena enggan menjual rempah pala dengan harga murah kepada Belanda. Ditambah lagi, Coen masih “baper” saat bosnya, Laksamana Pieterzoon Verhoeven (Komandan Armada Belanda), dijebak dan dibunuh orang Banda pada tahun 1608.

Dari tuturan mulut ke mulut selama ratusan tahun dan rekonstruksi sejarah ditemukan, bahwa banyak penduduk Banda yang dibunuh secara sadis. Tidak tua dan muda, ibu hamil serta anak-anak pun tidak luput dari pembantaian tersebut. Suasana sangat mengerikan waktu itu. Hawa kematian menyebar dimana-mana.

“Wanita hamil dibunuh, anak-anak juga dibantai dengan sadisnya,” kata Dr. Mezak Wakim, peneliti Banda dari Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Maluku di Waelela, Kota Ambon saat bincang di kantornya, Senin (18/3) siang. “Anak-anak kecil diseret ke dekat batang pohon kelapa, kepalanya kemudian dibenturkan ke batang itu hingga terdengar suara “kraakkk”. Batok kepala mereka pecah dengan otak berhamburan.”

Di suatu sungai, ditemukan sekitar 400 ratusan kerangka dan tengkorak manusia. Kabarnya, mayat penduduk Banda setelah disiksa dan dibunuh lantas dibuang kesana. Bau amis darah memenuhi tempat itu. Hingga berhari-hari, warna sungai menjadi merah darah. Bau busuk dari mayat-mayat itu memenuhi kawasan sekitar. Lalat dan burung pemakan bangkai terbang berputar-putar.

Menurut catatan tertulis sejarawan Belanda, saat itu, J.P. Coen mengerahkan sekitar 13 kapal perang, beberapa kapal pengintai yang mengangkut 1600 prajurit Belanda, 300 tahanan Jawa dan 100 ronin Jepang (samurai bayaran) untuk menghancurkan penduduk Banda. Persenjataan Belanda yang modern tentu saja tidak dapat dihadapi oleh persenjataan Banda yang hanya mengandalkan sedikit senjata modern peninggalan Portugal, klewang, tombak dan salawaku.

Pembuangan ke Jawa
Setelah genosida itu, sekitar 800-1000 warga Banda yang masih tersisa dibuang ke Jawa. Batavia dan Banten menjadi tujuan terakhir mereka. Banten dipilih terutama karena sejak awal, VOC di bawah Cornelis de Houtman sudah mendapat tempat disana. Saat VOC alias Vereenigde Oostindische Compagnie didirikan pada 1602 di Batavia, Pasar Senen (sekarang) menjadi lokasi mereka yang menjadi pembuangan dari Banda.

Sesuai instruksi J.P. Coen yang saat itu baru tiga tahun menjadi Gubernur Jenderal VOC di Batavia, pada 26 Maret 1622 penduduk Banda yang dibuang ke Jawa dikembalikan lagi ke Banda. Jumlahnya sebanyak 307 wanita dan anak-anak. Ini disusul dengan pengembalian gelombang kedua sejumlah 355 orang yang terdiri dari 38 pria dewasa, 186 wanita, 32 pemuda dan 99 anak-anak. Jadi, total yang dikembalikan ke Banda sebanyak 662 orang. Artinya sekitar 150 orang atau lebih masih tetap tinggal di Jawa.

Bila mencermati klasifikasi angka tersebut maka jumlah wanita merupakan yang terbanyak, disusul oleh jumlah anak-anak lalu pria dan pemuda. Ini menandakan bahwa genosida yang terjadi setahun sebelumnya memang mayoritas menimpa warga pria dewasa. Pulau Banda benar-benar ingin dikosongkan dan diganti dengan koloni baru dari warga Belanda sendiri, lalu dari para budak yang berasal dari India bagian muka, Pantai Coromandel, Kei dan Aru.

Lalu, bagaimana yang masih tertinggal di Jawa khususnya di Batavia dan Banten? Tujuh atau delapan tahun sejak peristiwa tersebut, Kerajaan Mataram Islam melakukan serangan terhadap VOC di Batavia. Dua kali Mataram Islam menyerbu pusat utama VOC di Nusantara itu, yaitu pada 1628 dan 1629. Meskipun serangkan itu bisa dipatahkan oleh VOC, namun Gubernur Jenderal VOC J.P. Coen secara misterius tewas mendadak.

Dalam serangan ke Batavia tersebut, Mataram Islam dibantu oleh Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon. Serangan pertama (1628) gagal menghancurkan VOC. Dua orang panglima perang Mataram Islam, yaitu Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja disertai sekitar 10 ribu prajurit tidak mampu menerobos benteng Hollandia di Batavia. Akibat kekurangan perbekalan, mereka menjadi lemah dan kalah.

Sultan Agung kemudian mengirim algojo untuk memberi sanski prajurit yang kalah itu. Sebagian prajurit kemudian menetap di sepanjang Pantura dan menikah dengan wanita setempat. Di Pantura, atas usul Nyi Ageng Tirtayasa, penasihat Sultan Agung Hanyakrakusuma alias Susuhunan Sultan Agung Senapati Ing Ngalaga Abdurrahman alias Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram mulai dibuka pesawahan sebagai bekal perang.

Serangan kedua dilakukan setahun kemudian, 1629. Serangan ini dipimpin oleh Adipati Ukur dan Adipati Juminah dengan kekuatan 14 ribu prajurit. Belajar dari kekalahan serangan pertama, Mataram Islam membuat lumbung-lumbung padi di sepanjang jalur Pantura Jawa Barat yaitu antara Cirebon-Indramayu-Cikampek. Namun, serangan kedua juga gagal menghancurkan VOC di Batavia.

Meskipun mengalami kegagalan, pasukan Mataram kemudian membendung dan mengotori Sungai Ciliwung sehingga terjadi wabah kolera. Akibat kolera itulah Gubernur Jenderal VOC yang kedua kalinya alias keenam Jan Pieterszoon Coen kemudian tewas secara mengenaskan. Itu bertepatan dengan empat hari setelah Eva Ment, istrinya melahirkan seorang bayi perempuan yang tidak beberapa lama kemudian juga meninggal.

PENUTUP

Dari paparan sejarah bercampur kronik dan fiksi tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu disampaikan, bahwa:

  1. Menurut informasi dari keluarga sewaktu masih kecil, penulis merupakan keturunan dari Mataram Islam (ayah) dan Banten (ibu) serta nenek moyang dari timur (Banda) sekaligus.
  2. Jalur dari Banda dapat ditelusuri setelah peristiwa genosida 1621 yang menyebabkan ratusan warga Banda (Komunitas Wandan) dibuang ke Jawa, yaitu ke Batavia dan Banten. Nenek moyang dari pihak ibu berasal dari sini.
  3. Jalur dari Mataram Islam bisa ditelusuri sejak serangan Mataram Islam ke Batavia yang pertama (1628). Beberapa panglima dan prajurit ada yang membuka perdikan (perkampungan) di sekitar Pantura Indramayu. Nenek moyang dari pihak ayah, berasal dari sini.
  4. Putri Wandan (Banda) yang diceritakan dalam Hikayat Tanah Lonthoir (Banda) dan Babad Tanah Jawi, sebenarnya adalah dayang dari permaisuri Kerajaan Majapahit, yang kemudian melahirkan Bondan Kejawan. Ki Bondan merupakan nenek moyang yang melahirkan raja-raja Kerajaan Mataram Islam.
  5. Tinggal menelusuri lagi jejak dalam silsilah keluarga (stamboek) yang dulu pernah diperlihatkan oleh kakek dan nenek di Indramayu, sewaktu masa kecil itu.
  6. Kepulauan Maluku terutama Banda memang terasa tidak asing lagi bagi penulis. Sebab, melalui mimpi, penulis seolah pernah ditarik ke masa ketika leluhur penulis masih tinggal disini. Wallahu a’lam bi al-shawwab.

*) Selesai disusun pada Selasa, 19 Maret 2019 di Waiheru, Kota Ambon, Maluku.

Screen Shot 2021 05 08 at 22.13.29
Penulis dengan salah satu narasumber.(Foto: Dok. Penulis)

RUJUKAN (MARAJI’)

  • Alwi, Des. Sejarah Maluku: Banda Neira, Ternate, Tidore dan Ambon. Jakarta: Dian Rakyat, Cet. I, 2005.
  • Andaya, Leonard Y, Prof. Dunia Maluku: Indonesia Timur pada Zaman Modern Awal (The World of Maluku: Eastern Indonesian in Early Modern Period). Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015.
  • Hoevell, W.R. van. Sejarah Kepulauan Maluku: Kisah Kedatangan Orang Eropa Hingga Monopoli Perdagangan Rempah (De Moluksche Eilanden: Tijdschrift voor Nederlandsche Indie). Yogyakarta: Penerbit Ombak, Cet. I, 2017.
  • Thalib, Usman, Dr. Islam di Banda Neira: Centra Perdagangan Rempah-rempah di Maluku. Ambon: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Maluku, Cet. I, 2015.

WAWANCARA

  • Dr. © K.H. Karnusa Serang, M.Fils., Komunitas Wandan (Banda di Ambon) dan Ketua Pengurus Nahdlatul Ulama (PWNU) Prop. Maluku di Kantor PWNU Maluku, Selasa, 12 Februari 2019.
  • Dr. Mezak Wakim, peneliti muda spesialis Banda di Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Maluku di kantor BPNB Waelela, Kota Ambon, Maluku, Senin, 18 Maret 2019.

Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button