Meramu Pengetahuan, Merawat Ketangguhan Iklim
Saat Nelayan Maluku Membaca Cuaca dengan Sains dan Nanaku
Mengakrabkan Sains, Mengurangi Risiko
Di balairung, nelayan tak sekadar diperkenalkan dengan teknologi. Lebih dari itu, mereka juga diajarkan memetakan risiko keselamatan. Salah satu peserta pelatihan bernama Musliadi.
Pria berbadan gempal ini, ketika melaut mengandalkan Global Positioning System (GPS) untuk merekam fishing ground ikan tuna (Thunnus) di Laut Banda.
Meski telah mengantongi koordinat potensial tuna, ia mengeluhkan dampak perubahan iklim yang menggeser pergantian monsun, mengubah pola curah hujan dan meningkatnya cuaca ekstrem.
Keluhan Musliadi bukan tanpa alasan. Ahli Klimatologi BRIN, Erma Yulihastin (2024), menyebut perubahan iklim meningkatkan cuaca ekstrem di Benua Maritim Indonesia (BMI). Menurutnya, Laut Banda merupakan salah satu wilayah penting untuk pembentukan hujan dan siklon tropis.
Dalam buku Interaksi antara Atmosfer dan Laut Pemicu Cuaca Ekstrem untuk Meningkatkan Akurasi Prediksi Onset Hujan di Pesisir, Erma menulis, “Gelombang yang aktif dan terbentuk di atas Laut Banda-Maluku ini selanjutnya berinteraksi dengan Madden Julian Oscillation (MJO) fase 4 di kawasan timur Indonesia.”
“Interaksi antara Rossby dan MJO inilah yang berperan dalam memberikan dukungan angin timuran (baratan), sehingga vorteks yang terjadi di selatan ekuator dapat terus tumbuh, menguat, dan membesar.”
Interaksi atmosfer itu memperkuat pembentukan cuaca ekstrem di Laut Banda. Bagi nelayan, kondisi ini meningkatkan risiko keselamatan ketika angin kencang dan gelombang tinggi melanda Laut Banda.
Dalam situasi begitu, Musliadi menilai SLCN Plus memberikan kemudahan bagi nelayan untuk mengakses prediksi cuaca maritim dalam waktu nyata.

“Situs BMKG mudah diakses dan sangat membantu sekali mengetahui kondisi cuaca terkini,” ujarnya.
Noni Tuharea, Direktur Program Yayasan SAHARI, menyambut baik kelas SLCN Plus turut membantu nelayan. Ia bilang kegiatan tersebut untuk mengejawantahkan program desa tangguh bencana (Destana) di Maluku.
“Namun, karakteristik Provinsi Maluku ini kan pulau-pulau kecil dan masyarakat banyak tinggal di pesisir,” jelasnya.
“Karena itu, konsep Destana juga harus menjadi konsep membangun pulau kecil tangguh bencana. Yayasan SAHARI sebut sebagai Destana Kepulauan,” tambahnya.
Program Destana Kepulauan diadakan di Desa Soleh dan Tonu Jaya, Pulau Kelang, Seram Bagian Barat; Desa Liang, Waai dan Tial, Pulau Ambon, Maluku Tengah; serta Desa Pulau Ay, Lautang dan Selamon, Kepulauan Banda.
Di desa-desa tersebut, masyarakat lebih dulu memetakan risiko dan ancaman bencana. Staf Yayasan SAHARI selanjutnya mendampingi mereka dan memberikan asesmen.
Hasil kajian mengungkap Kepulauan Banda terdampak ancaman bencana paling besar, mencakup letusan gunung api, gempa bumi dan bencana hidrologi. Ancaman terakhir inilah yang dihadapi nelayan.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



