Meramu Pengetahuan, Merawat Ketangguhan Iklim
Saat Nelayan Maluku Membaca Cuaca dengan Sains dan Nanaku
“Misalnya garis awan hitam itu pertanda laut akan berombak. Tanda-alam ini dapat dipadukan dengan peringatan gelombang,” jelasnya.
Pendapat Musliadi turu didukung Ramly Astar, Raja Negeri Administratif Lautang. Ramly mengatakan nelayan maupun petani di kampungnya masih menggunakan Nanaku untuk melaut dan bercocok tanam.
Nanaku khas negerinya berkaitan pengamatan peralihan munson. Fase munson barat patokannya, kata dia matahari terbit sisi kiri Pulau Hatta. Semenatara munson timur, matahari terbit pada bagian kanan pulau.
Ada pula Nanaku khas lain yang dilihat untuk memantau ombak saat peralihan munson barat ke timur. Nelayan, mengamati pasir di pantai.
“Pasir akan berpindah dari kiri ke kanan akibat dipukul ombak. Selama pasir belum berpindah, tetap masih ada ombak meski sudah masuk Oktober,” ujarnya.
Hasil Nanaku kemudian dianalisis dengan aplikasi prakiraan cuaca dan informasi BMKG. Di darat, petani juga mengembangkan siasat menghadapi perubahan iklim melalui agroekologi.
Merawat Tanah dengan Agroekologi
Benito Kissya selonjoran di lantai basecamp Yayasan SAHARI, meregangkan otot-otot yang pegal. Siang itu, panas menyelimuti Negeri Administrasi Boiyauw, Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Embusan angin sepoi dari laut hanya sedikit meredakan gerah.
Kelopak mata praktisi agroekologi itu nyaris terpejam, Sabtu, 11 Juli 2026. Lelaki berpenampilan trendi ini baru hendak memejamkan mata ketika Siska Putri Kulalean, staf Yayasan SAHARI, datang menghampirinya.

“Om Ben, tolong cek grup monitoring WhatsApp do,” celetuknya.
Siska lalu menunjukkan unggahan Mina, seorang petani perempuan asal Desa Soleh, Pulau Kelang, Seram Bagian Barat, dari gawainya. Dalam unggahan itu, terlihat perkembangan tanaman cabai seledri yang ditanam menggunakan pupuk organik tumbuh subur.
Benito mengangguk pelan, tanda setuju. “Iya, nanti beta (saya) cek, nona.”
Pria 45 tahun itu lalu membuka aplikasi perpesanan dan memperlihatkan foto yang dibagikan itu kepada jurnalis PotretMaluku. Terlihat cabai dan seledri setinggi dua jari kelingking di media tanam berupa karung dan kemasan air mineral.
Selain Mina, ada pula ibu-ibu lain dari Desa Sole dan Tonu Jaya yang mengunggah foto perkembangan tanaman mereka. Tumbuhan ini berjejer di pekarangan depan rumah, sisi kiri dan kanan.
Sementara itu, Benito langsung mempraktikkan cara menanam ramah lingkungan di lahan para petani pria. Mayoritas tanaman yang dibudidayakan, di antaranya kunyit dan jagung.
Pendampingan pun tidak berhenti pada praktik di lahan. “Melalui grup saya melakukan pemantauan, berdiskusi dan berbagi ilmu dengan para petani apabila terdapat kendala,” katanya.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



