LingkungamMalukuMaluku Tengah

Meramu Pengetahuan, Merawat Ketangguhan Iklim

Saat Nelayan Maluku Membaca Cuaca dengan Sains dan Nanaku

“Dari hasil prediksi INAWIS bahwa Perairan Selamon lagi potensial tuna, makanya saya memilih pancing di perairan dekat kampung saja,” tambahnya.

Meski mulai mengandalkan informasi cuaca BMKG, Musliadi dan Hamzah, tidak serta-merta meninggalkan pengetahuan leluhur. Sebaliknya, pengetahuan modern menjadi pelengkap bagi Nanaku—tradisi membaca tanda alam dan perilaku hewan—yang diwariskan turun-temurun di Kepulauan Banda

Meramu Sains dengan Ilmu Leluhur

Fuad Buang, nelayan asal Negeri Selamon, sehari-hari melaut menggunakan jukung di perairan sekitar kampungnya. Sebelum berangkat, ia biasanya memperkirakan pola angin sepekan ke depan menggunakan metode hitungan hari dalam tradisi Nanaku.

Tubuhnya kekar. Wajahnya pun tenang dengan tutur kata yang pelan. Ketika ditemui pada Kamis, 9 Juli 2026, ia mengenakan kaus berkerah, celana panjang. Rambutnya yang disisir klimis berkali-kali diterpa angin.

Ia menoleh ke arah perairan sembari mengangkat tangan kirinya, menunjukkan arus yang mengalir deras. ”Kalau arus kuat ini bertahan hingga Kamis malam, pertanda sepekan kemudian angin berembus kencang disertai arus di laut,” ujarnya.

Metode Nanaku itu baginya bisa dipadukan dengan pengukuran skala angin berdasarkan informasi cuaca dan iklim BMKG.

“Jadi prakiraan angin dari BMKG bisa dipadukan dengan metode perhitungan tradisi Nanaku,” lanjut Fuad.

Cerita Fuad sehaluan dengan praktik pengetahuan tradisional masyarakat Maluku yang diwariskan lintas generasi. Buku Astronomi dan Meteorologi Tradisional di Daerah Provinsi Maluku menyebut Nanaku sebagai petunjuk pergantian musim, pelayaran, hingga penentuan waktu menangkap ikan.

“Pengetahuan (Nanaku) ini, sebagaimana tercermin pada namanya, dialihkan dari generasi ke generasi secara informal, bukan melalui pendidikan formal,” tulis buku tersebut.

Penjelasan Fuad hanya secuil dari kekayaan tradisi Nanaku di negeri di ujung timur Pulau Banda Besar. Menurut penutur adat, nelayan biasanya memantau Gunung Kumber untuk mengetahui cuaca harian.

Kuncibuk, nama lain gunung tersebut jika puncaknya diselimuti kabut tebal pertanda embusan angin landai dan laut pun teduh. Namun bila tidak ada kabut, angin sedang kencang dan laut lagi berombak.

Uniknya lagi dari negeri itu, dapat memantau siklus peralihan monsun dalam setahun. Saat pancaroba monsun barat, matahari terbenam pada sisi kanan di antara Gunung Lewarani dan Tujuh.

Siklus demikian terjadi September, Oktober dan November. Secara  bersamaan juga terjadi air surut di pantai pukul 13.00-18.00 WIT.

Selanjutnya munson barat, dimulai Desember dengan matahari terbenam pada sisi kiri. Air surut otomatis berpindah pukul 05.00-08.00 WIT.

Seperti Fuad, Ketua Nelayan Negeri Administratif Lautang, Musliadi pun berinisiatif memadukan hasil prakiraan cuaca maritim dengan nanaku.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6 7Next page

Berita Serupa

Back to top button