Meramu Pengetahuan, Merawat Ketangguhan Iklim
Saat Nelayan Maluku Membaca Cuaca dengan Sains dan Nanaku
“Mulai dari hal yang paling kecil di rumah tangga dulu. Lalu yang terakhir adalah bagaimana memastikan masyarakat di pesisir dan pulau kecil ini memiliki atau bisa akses informasi cuaca dan iklim,” harapnya.
Noni melanjutkan setelah petani memahami dan piawai membaca informasi dari BMKG itu kemudian dilanjutkan pelatihan pertanian agroekologi serta praktik di lahan.
Di perbukitan Desa Lautang, di hadapan petani, Benito berdiri menjelaskan. Sisi kiri, kanan dan depan bangunan kayu yang dipakai dengan lebar 4 meter dan 12 meter ini, tumbuh subur sayur-mayur, umbi-umbian dan pohon pala.
Alumni OISCA Sukabumi Training Center, Cimenteng, Jawa Barat tahun 1999 itu, tampak piawai. Ilmu pupuk bokashi (pupuk organik hasil fermentasi khas Jepang) yang ia peroleh selama training 1 tahun 3 bulan semuanya diajarkan ke petani.
Namun sebelum memasuki tahapan tersebut, ia mengawali dengan metode pembukaan lahan ramah lingkungan tanpa membakar. ”Jadi semak belukar dan rumput dari pembukaan lahan jangan dibakar tetapi dibiarkan kering lalu tanah digarap untuk membuat bedengan tanaman,” jelasnya.
Bedengan pun bisa disesuaikan dengan iklim, kalau musim penghujanan sebaiknya bedengan harus tinggi. Sedangkan musim kemarau lebih rendah.
Benito mengatakan bedengan yang ditanam bibit kemudian ditutup dengan mulsa organik, seperti alang-alang dan serbuk gergaji.
“Jadi bahan ini efektif untuk menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma dan menjaga suhu tanah tetap stabil,” jelasnya.

Dalam praktik pertanian juga bisa menggunakan teknik tumpang sari. Sebidang lahan yang sama bisa menanam beraneka tanaman.
”Teknik ini mengurangi pembukaan hutan dan penebangan pohon untuk lahan pertanian baru, apalagi di tengah perubahan iklim saat ini.”
Benito kemudian bersama para petani mempraktikkan pembuatan pupuk NPK cair organik, pestisida dan M4 dengan bahan-bahan organik. Misalnya dari buah-buahan, air kelapa, gula, daun kelor, batang pisang, sisa sayuran dan jenis tumbuhan lainnya.
Pupuk NPK cair itu kemudian dipakai untuk menanam bawang di salah satu lahan milik petani. ”Karena kondisi lagi musim panas, makanya kita memulai dulu dengan tanam bawang,” jelasnya.
Penggunaan pupuk organik, baginya untuk menjaga unsur hara tanah tetap stabil dan menjaga kesehatan lingkungan untuk pertanian berkelanjutan.
Apa yang diajarkan Benito bukan hanya soal cara menanam. Di baliknya ada upaya mengubah cara petani memperlakukan tanah: dari sekadar tempat tumbuh tanaman menjadi bagian penting yang harus dirawat
Bagi para petani, agroekologi bukan sekadar menjaga lingkungan. Tetapi juga siasat menghemat biaya dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar mereka.(M. Jaya Barends/potretmaluku.id)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



