LingkungamMalukuMaluku Tengah

Meramu Pengetahuan, Merawat Ketangguhan Iklim

Saat Nelayan Maluku Membaca Cuaca dengan Sains dan Nanaku

Sebelumnya, pada 19 Juni 2026, Yayasan SAHARI menggelar pelatihan bagi petani di Desa Soleh dan Tonu Jaya. Setelah pelatihan ini, dibuat grup monitoring agar Benito mudah berinteraksi dengan para petani.

Selain pelatihan tersebut, Yayasan SAHARI juga menggelar sekolah lapang iklim (SLI) Pertanian yang bekerja sama dengan BMKG Stasiun Klimatologi Maluku.

Dalam kelas, staf BMKG mengajarkan petani pemanfaatan informasi iklim, meliputi curah hujan, pola musim, dan prakiraan cuaca untuk membantu mereka menentukan kalender tanam di tengah perubahan iklim.

Informasi mengenai iklim kemudian diteruskan ke tingkat desa. Yayasan SAHARI memfasilitasi pemerintah desa bekerja sama dengan BMKG agar informasi iklim dapat terdistribusi ke desa.

Pelatihan dan sekolah serupa juga digelar di Desa Pulau Ay dan Lautang, Kepulauan Banda serta Desa Waai dan Tial, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

Dua hari sebelum bertemu Benito, tepatnya Kamis, 9 Juli 2026, jurnalis PotretMaluku mengikuti SLI Pertanian di Desa Lautang.

Kala itu, Astiani Syawreta, prakirawan cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Maluku memaparkan produk dari  instansinya mengenai iklim dan cuaca di pulau kecil dan pesisir. Petani kemudian diajak membaca peta analisa sifat hujan Mei 2026 di Maluku.

Para petani tampak khusyuk mendengarkan penjelasan. Tatapan mereka fokus ke arah slide materi yang terpasang pada dinding sambil menyimak suara Astiani.

WhatsApp Image 2026 08 30 at 21.02.32

”Pada Mei 2026, umumnya Maluku mengalami sifat hujan kategori bawah hujan sampai dengan atas normal,” jelasnya. Astiani lalu mengajak petani membaca peta iklim, di antaranya membaca prediksi curah hujan bulanan Juli hingga Desember, zona musim (ZOM), analisis perkembangan musim dan prediksi puncak musim kemarau.

Dia menyebutkan materi yang diberikan ini diharapkan dapat dipakai petani untuk penentuan kalender tanam. Sebab baginya perubahan iklim mengakibatkan berubahnya kondisi lingkungan dan dampaknya terhadap kurang optimalnya pertumbuhan tanaman.

Kondisi ini berpengaruh terhadap siklus hidup OPT karena suhu tinggi mempercepat siklus hidup.

“Jadi petani bisa menentukan tanaman sesuai dengan kondisi iklim. Misalnya, tanaman apa yang tepat sesuai dengan kondisi iklim (saat musim penghujanan dan kemarau),” ujarnya lagi.

Sementara itu, Noni Tuharea, Direktur Program Yayasan SAHARI mengatakan SLI Pertanian itu dijadwalkan digelar Juni-Juli termasuk SLCN Plus. Sebab pada Agustus, para petani di lokasi program tengah  menyiapkan lahan dan bibit, lalu September melakukan penanaman.

Namun pada 2026, di bulan-bulan itu diprediksi diterjang El Nino yang mengakibatkan musim kemarau lebih kering dan lebih panjang dari biasanya. Mengutip laman bmkg.go.id, disebut fenomena tersebut bertahan setidaknya hingga kuartal pertama 2027 dengan puncak intensitas melebihi kategori kuat.

Melalui SLI Pertanian diharapkan dapat memperkuat ketangguhan petani beradaptasi di tengah perubahan iklim. Diharapkan juga membangun kemandirian petani dalam menyediakan pangan rumah tangga.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6 7Next page

Berita Serupa

Back to top button