LingkungamMalukuMaluku Tengah

Meramu Pengetahuan, Merawat Ketangguhan Iklim

Saat Nelayan Maluku Membaca Cuaca dengan Sains dan Nanaku

“Bencana hidrologi cukup tinggi, dampak dari perubahan iklim memicu cuaca ekstrem, suhu, arus dan pola angin yang berubah tak menentu,” bebernya.

Temuan itu kemudian menjadi dasar digelarnya SLCN Plus untuk memperkuat kapasitas nelayan menghadapi risiko di laut. Dalam kelas, mereka tidak hanya diajarkan membaca produk BMKG, seperti prediksi gelombang tinggi, arus dan lainnya.

“Namun nelayan juga dilatih dan langsung mempraktikkan keselamatan di laut (safety at sea) yang diajarkan pihak Basarnas. Tujuan utamanya, agar nelayan bisa menyelamatkan diri ketika situasi emergensi,” ujar Noni.

“Sebab kecelakaan laut cukup tinggi. Pelatihan ini juga diharapkan dapat mengubah paradigma berpikir masyarakat, terutama nelayan, tentang pentingnya keselamatan,” lanjutnya.

Pernyataan Noni sejalan dengan data Pos SAR Banda periode 2021-2025 yang dinukil Betahita. Selama masa itu, terdapat 31 operasi SAR dengan 207 korban. 182 orang di antaranya selamat, 10 meninggal dunia, dan 13 hilang.

Kecelakaan terjadi di Perairan Pulau Pisang, Run, Laut Banda, Pulau Ai, Pulau Hatta, Pulau Suanggi, serta Pulau Gunung Api Banda.

Melihat tingginya risiko kecelakaan laut, SAHARI berharap masyarakat pulau-pulau kecil semakin tangguh menghadapi bencana. Melalui SLCN Plus, diharapkan dapat melatih kemampuan nelayan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

SAHARI juga menfasilitas kerja sama pemerintah negeri dan pihak BMKG agar informasi cuaca dan iklim terdistribusi ke masyarakat. Ditingkat tapak, ada tim kecil yang real time bagikan informasi tersebut.

Manfaat pelatihan telah dirasakan Musliadi. Ia mengaku bahan ajar dalam SLCN Plus mudah dipahami. Sekaligus dijadikan alarm guna menentukan fishing ground potensial sebelum melaut tetapi tidak berisiko terhadap keselamatan.

“Sekarang paham bagaimana memahami prediksi informasi cuaca maritim,” kata Ketua Nelayan Negeri Administrasi Lautang itu.

Beda lagi cerita pengalaman Hamzah Laluntu, 57 tahun. Kini materi SLCN Plus telah dipraktikkan setelah sepekan berlalu. Ketika ditemui di rumahnya, ia baru pulang melaut membawa 30 anak tuna.

Ikan terjerat kail Hamzah di fishing ground yang berjarak 5 mil laut dari pesisir pantai Negeri Selamon, tempatnya bermukim.

Hari itu, Kamis, 9 Juli 2026, angin sedang berembus kencang. Ia pun mengurungkan niat memburu tuna berjarak 20 mil laut di Perairan Laut Pulau Rhun.

“Tadi subuh saya cek di situs BMKG, angin berembus kencang hingga 25 knot dan berpotensi gelombang sedang kisaran 1,25 hingga 2,5 meter,” jelasnya.

Tak kehabisan akal, Hamzah lalu memeriksa kanal INAWIS sambil memperagakan seolah sedang memegang gawai dengan jemarinya yang berkerut. Meski usianya pralansia, ia lihai memanfaatkan teknologi aplikasi cuaca demi mendukung aktivitas melaut.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6 7Next page

Berita Serupa

Back to top button