Luna Vidia menyebut pentingnya tarian sebagai identitas dan ekspresi budaya, yang bukan hanya tampak dalam wastra yang dikenakan berikut aksesorinya, tetapi juga dalam geraknya. Luna juga menekankan perlunya para penari menjiwai tariannya, bukan sekadar menghafal ketukan dan gerakan.
“Kita itu orang dari Timur, punya istilah isi bagara. Begitu dengar bunyi musik, langsung badang bagoyang iko irama,” kata perempuan asal Maluku yang tumbuh besar di Papua itu.
Saya yang awam soal tari, tergelitik begitu disebut nama Maluku dan Papua–dua daerah yang cukup familiar dalam hidup saya. Kebetulan saya pernah pula ke Kupang, nginap di Hotel Sasando.
Saya menyahuti tentang alat musik yang digunakan. Sayangnya, kata saya, hanya berupa playback, tidak dihadirkan langsung pemusik dan alat musiknya.
Ini penting agar kita sebagai penonton bisa mengenali alat musik yang digunakan, bisa membedakan tifa dari Rote (NTT) dengan tifa asal Maluku atau Papua. Dan apakah bunyi-bunyian dari gong itu satu set layaknya totobuang dari Maluku.
Ada beberapa komentar lain tentunya, yang menarik sebagai bahan diskusi, termasuk stereotype, mengapa penari umumnya perempuan dan kalau lelaki menari menjadi keperempuan-perempuanan? Mungkin butuh waktu khusus membahas isu gender dalam tarian.

Saya sendiri menikmati suasana sore itu di Baruga Kaluarang. Apalagi pada sesi workshop di mana mahasiswa Jurusan Seni Tari menari bersama dengan para penari Gen Z asal Kupang.
Ada komunikasi antar budaya ketika remaja asal kupang itu mengajarkan gerakan Tari Gong, begitupun sebaliknya, saat mereka belajar Tari Paduppa asal Sulawesi Selatan.
Para penari akan tampil di Makassar Eight Festival & Forum atau F8. Festival yang menghadirkan delapan elemen itu (Food, Fashion, Fusion Music, Film, Fine Art, Fiction Writer, Folks, dan Flora and Fauna), pada tahun 2025 ini digelar di area Parking Lot Trans Studio Mall, Makassar.
Formasi lengkap tim penari yang merupakan duta budaya Kupang itu terdiri dari Marsela Paulana Klau (koreografer dan guru SMA Katolik Giovanni), Yuvenaris Uskono (koreografer), dan Kristina Devi Bria (pendamping).
Para penarinya terdiri dari Santa Maria N Seluru, Asmi Yanti, Amanda Febriyani, Pricilia Denvisia, Maria Gema G.O. Beribe, Meysilla M.M Mesah, Magdalena Marselin C. Tail, dan Zephaniah Djaramone.
Para penari mengenakan kain khas NTT, berupa tenun ikat, dan panggal, yakni hiasan berbentuk mirip tanduk kerbau di kepala penarinya. Seorang penari membawa sasando yang merupakan alat musik tradisional berdawai asal Pulau Rote.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



