Pendapat

Membaca Antropologi Kontemporer Paguyuban Lamahu dari Makassar

Ia menjadi “ruang simbolik” di mana orang Gorontalo rantau merajut kembali huyula—gotong royong—sebagai modal sosial.

Membaca antropologi Lamahu dari Makassar berarti memahami bagaimana sebuah paguyuban etnik bertransformasi menjadi gerakan budaya yang melintasi batas geografis. 

Ia adalah tafsir baru atas “pohalaa” dalam konteks modern, sebuah ikhtiar untuk menjaga warisan sekaligus membangun masa depan. 

Lamahu, dengan denyutnya di Makassar, Jakarta, dan kota-kota lain, adalah bukti bahwa identitas Gorontalo tidak pernah berhenti mencari ruang hidup, dari tradisi ke modernitas, dari lokal ke nasional.

Akhirnya, dari Makassar, Lamahu Sulut menghajat adat hunggulia berikut:

DEKLARASI MAKASSAR:

7 Manifesto Kebudayaan Menuju 1000 Tahun Alaf Gorontalo

1. Kembalikan toponim kabupaten dan kota Gorontalo seperti Limutu, Kwandang, Boalemo, Pohuwato, Bone Bolango, sebagai upaya menghidupkan kembali jejak sejarah dan makna lokal yang terkandung dalam nama-nama tersebut.

2. ⁠Mendeskripsikan pemaknaan biogenetik budaya dan politik dari nama-nama raja serta arti marga, untuk menyingkap akar genealogis dan simbol kekuasaan yang membentuk identitas masyarakat Gorontalo.


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button