Pendapat

Membaca Antropologi Kontemporer Paguyuban Lamahu dari Makassar

Dan kelompok-kelompok diaspora Gorontalo cukup banyak yang dikenal dalam berbagai bidang.

Misal, dalam bahasa dan sastra, ada nama-nama besar DR(HC). Drs. HB. Jassin, Prof. Dr. Yus Badudu, Prof. Mbiyo Saleh dan komponis, A. Dungga.

Di dunia usaha, nama-nama besar, Drs. Thayeb Gobel, Sandiaga Uno, Fadel Muhammad, Suharso Monoarfa hingga yang masuk politik, Zainuddin Amali, Bajeber.

Dari diaspora keturunan, ada Ir. Ciputra, Drs. Apt. Lembong, paman Thomas Lembong, Ir. Ignaitius Jonan dan lainnya.

Tak lupa, DR(HC) Ir. Arie Pedju MSc, founder Encona Group dan Dirjen Geologi, Prof. Dr. J.A. Katili.

Paguyuban Lamahu menjadi wahana untuk mengonsolidasikan identitas sekaligus memperkuat posisi sosial-ekonomi perantau.

Basri Amin dan Hasanuddin dalam Gorontalo: Dalam Dinamika Sejarah Masa Kolonial (2012) mengingatkan bahwa “kolonialisme membentuk ruang-ruang baru bagi orang Gorontalo, tetapi juga melahirkan resistensi budaya.” 

Lamahu dapat dibaca sebagai kelanjutan resistensi itu, bukan lagi terhadap kolonialisme, melainkan terhadap homogenisasi budaya urban dan lebih-lebih budaya dan geopolitik global.

Dengan menghidupkan bahasa, adat, dan solidaritas, Lamahu menegaskan bahwa identitas Gorontalo tetap hidup di tengah arus globalisasi.

Selain Raker, Lamahu pusat)Jakarta) menyelenggarakan pengukuhan pengurus Lamahu di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Jawa Barat, dan Papua. 

Ekspansi ini menunjukkan bahwa Lamahu bukan sekadar organisasi lokal, melainkan gerakan budaya etnik kontemporer yang menjangkau lintas provinsi. 


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button