Pendapat

Tragedi Hunuth dan Luka Kolektif: Mengapa Pendidikan Damai Harus Kembali Dimulai Sekarang

PENDAPAT

Sore kemarin, Desa Hunuth di salah satu sudut Kota Ambon, masih berdenyut dengan rutinitasnya. Anak-anak berlarian di halaman. Ibu-ibu menjemur pakaian, setelah hampir seminggu hujan mengguyur kota ini tanpa spasi. Sementara di kejauhan terdengar riuh suara motor pelajar pulang sekolah. 

Tak ada yang menduga, hanya dalam hitungan jam, suasana itu akan berubah menjadi kepanikan. Api menjilat kantor desa, belasan rumah roboh dilalap kobaran, dan orang-orang berhamburan menyelamatkan diri dengan mata yang basah.

Semua bermula dari tawuran. Sekilas, ini terdengar klise: remaja berseragam yang kehilangan akal sehat lalu saling serang. Tapi kali ini ceritanya lebih pahit. Seorang siswa SMK Negeri 3 Ambon, berinisial AP, meregang nyawa. Luka tikaman membuatnya tak kembali pulang. 

Dari pengakuan awal pelaku kepada petugas yang menangkapnya, yang saya nonton dari potongan video yang beredar pada WhatsApp Group, penikaman itu dilakukan dalam upaya “menolong teman” yang tengah dikeroyok. 

“Beta cuma mau tolong beta pung tamang yang dapa pukul ancor. Beta mau hela dia dari situ, cuma dong pukul tarus. Beta tikam dong sabarang di situ, supaya dong lapas dia, lalu beta bisa bawa lari dia,” begitu pengakuan si pelaku penikaman.

Sebuah alasan yang di satu sisi terdengar heroik, tapi di sisi lain menyisakan pertanyaan: sejak kapan menolong berubah wujud menjadi menghabisi nyawa?

Pertanyaan lain menggantung lebih lama: apakah tawuran itu terjadi di dalam sekolah? Jika benar, di mana guru-guru saat itu? Mengapa tak ada tangan dewasa yang masuk di tengah kerumunan dan merelai anak-anak itu? 

Jika peristiwa terjadi di luar pagar sekolah, bukankah mestinya ada orang dewasa lain yang bisa menghentikan? Atau jangan-jangan, ada, tetapi mereka memilih diam, menonton, seakan sedang menyaksikan sebuah tontonan yang sudah biasa?

Yang lebih menyesakkan, tawuran remaja ini tak berhenti pada duka keluarga korban. Ia menjalar, memantik amarah warga, hingga kantor desa Hunuth dan belasan rumah menjadi korban pelampiasan. “Kami hanya bisa menyelamatkan pakaian di badan,” kata seorang ibu, suaranya pecah. 

Di balik reruntuhan kayu dan batu yang menghitam, tersisa aroma rumah tangga yang musnah. Bukan hanya harta yang hilang, tapi juga rasa aman yang selama ini dijaga dengan susah payah.

Aparat turun cepat. Polisi, Brimob, hingga TNI berjaga di titik-titik rawan. Tembakan peringatan dan gas air mata mewarnai sore itu. Wali kota datang, memberi janji: rumah akan dibangun kembali, kerugian akan ditanggung. Janji yang mungkin bisa meredakan, tapi belum tentu menyembuhkan. Sebab trauma tak bisa ditebus dengan proyek bangunan.

Di sisi lain, suara-suara protes dan kegetiran muncul dari masyarakat. “Kenapa selalu begini? Kenapa masalah anak-anak sekolah bisa berubah jadi luka satu kampung?” Pertanyaan itu tak ditujukan hanya kepada pelaku, tapi juga pada kita semua: orang tua, guru, tetangga, hingga aparat yang sering datang terlambat.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2Next page

Berita Serupa

Back to top button