Lindungi Semua, Penuhi Hak Korban, Akhiri Kekerasan: Pesan Mendalam dari Ketum PGI
Ia mengisahkan pengalamannya saat menjadi pelayan di sebuah jemaat dengan lebih dari 50 majelis. Setiap majelis diwajibkan untuk mencatat kasus-kasus pastoral yang terjadi di unit pelayanannya.
“Kekerasan dalam rumah tangga selalu menjadi kasus yang menonjol,” ungkapnya.
Sayangnya, kata dia, banyak jemaat belum sepenuhnya menyadari, bahwa gereja sering kali gagal menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi perempuan korban kekerasan.
Pendeta Jacky tidak ragu untuk mengkritik diri sendiri dan institusi gereja. Ia menyoroti kasus-kasus pelecehan yang dilakukan oleh pelayan gereja laki-laki, baik secara verbal maupun non-verbal, yang sering kali ditutupi karena alasan malu.
“Perempuan dalam jemaat sering merasa tidak aman bahkan dalam relasinya dengan pendetanya sendiri,” ujarnya.
Desakan untuk Aksi Nyata Gereja
Dalam pesannya, Pendeta Jacky menyerukan gereja untuk mengambil langkah-langkah konkret. Ia menekankan pentingnya membangun shelter sebagai tempat perlindungan bagi perempuan korban kekerasan.
Shelter ini disebutnya, harus menjadi ruang di mana mereka dapat berbicara dan menerima pendampingan pastoral.
“Keberpihakan gereja harus nyata dalam program dan anggaran,” tegasnya.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




