Kutikata

Lia Bua Kanal Pohong

KUTIKATA

Oleh: Eltom (Pemerhati Sosial)


Masih mengenai “tabiat” (=perilaku) sebagai bagian dari “ilmu hidop” (=ilmu hidup). Masih mengenai “basaleng” (=berpakaian) sebagai cara mewariskan “tabiat bae” (=perilaku yang baik) karena “sapa mau hidop deng umur, musti jaga tabiat” (=siapa ingin umur panjang mesti memelihara perilaku yang baik).

Lia bua kanal pohong” (=melihat buah, mengetahui pohonnya/pohon dikenal dari buahnya). Ungkapan ini melukiskan bahwa perilaku seorang anak menunjuk langsung siapa orangtuanya atau dari siapa perilaku itu diturunkan.

Seng samua mangga manis, satu dua pohong biar su mayang lai, asang bukang maeng” (=tidak semua pohon mangga manis buahnya, ada yang buahnya sangat asam). Artinya setiap orangtua memiliki cara yang berbeda dalam membina anaknya. Bahkan “di satu pohong tu ada cabang yang taru bua bagus, ada yang sondor babua lai” (=pada pohon yang sama ada cabang yang berbuah lebat dan lainnya tidak). Artinya orangtua yang “ade kaka kandong” (=sekandung) pun bisa menurunkan “tabiat” yang beda kepada anak-anak mereka.

Sebab itu sering sekali tercetus pertanyaan: “sapa pung ana ni?” tatkala seorang anak memperlihatkan “tabiat yang tar manir” (=tidak sopan), yang “bajalang seng mister deng orang laeng” (=berjalan tanpa hiraukan orang lain; misalnya dalam hal menyapa) atau “isi badang tar tado” (=suka bertingkah). Malah bukan hanya dia yang dinilai seperti itu, orangtuanya pun tidak luput dari penilaian, sehingga dipadankan seperti dalam ungkapan: “tar buang-buang mai paskali” (=sama persis mamanya) atau “pai baju pas badang paskali” (=sama persis papanya).

Sebaliknya bila perilaku anak itu baik, sering dilekatkan pada ungkapan yang lebih sopan dalam tutur dan istilahnya pun, seperti “hidop manis ambel mama paskali” (=hidupnya manis persis mamanya) atau “sio, stel deng papa baju pas badang ale tuang” (=sungguh, persis kelakuan papanya).

Penggunaan istilah mai/pai dalam fungsi kedua kalimat itu menunjukkan bentuk penilaian terhadap anak dan orangtuanya sekaligus. Artinya perilaku anak dinilai dari siapa pembentuknya dan sebaliknya pembentuk perilaku itu diukur dari perilaku anak yang dibentuk olehnya.

Malah menariknya dalam hal ini, yang dipakai sebagai patokan penilaian adalah juga saudara kandung papa atau mama. Karena itu kita sering pula mendengar ungkapan: “tar tau kalakuang iko sapa, mangkali dia pung om/tanta bongso” (=tidak tahu seperti siapa kelakuannya, mungkin saja seperti adik papa/mamanya yang bungsu). Malah ada pula penilaian langsung seperti “kaki tangang aringang parsis tete” (=cekatan/lincah seperti kakeknya).

Semua ini mengajari kita bahwa “tabiat” itu diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan keluarga itu “skola hidop“.

Salamat Hari Pendidikan Nasional

Minggu, 2 Mei 2021
Pastori Jemaat GPM Tual, Klasis Kei Kecil dan Kota Tual


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Lihat Juga
Close
Back to top button