KutikataAmboina

Beta Dapa, Beta Polo, Beta Kele Rapat-rapat

KUTIKATA

Oleh: Elifas Tomix Maspaitella (Pemerhati Sosial)


Beta dapa, beta polo, beta kele rapat-rapat” (=aku temukan, ku peluk, kugandeng tangan erat-erat). Ini penggalan syair lagu Pop Maluku berjudul “Panggayo“, yang mengungkapkan “kas’ tumpa rindu par nona” (=luapan rindu kepada perempuan kekasih hati). Ungkapan rindu seorang lelaki “di orang pung gunung tanah” (=di tanah rantau) untuk pulang menjumpai “nona jantong hati” (=nona jantung hatinya).

Sapa tau, manyanyi akang jua” (=siapa yang tahu, silahkan dinyanyikan lagunya). “Kalu rindu, donci deng dendang sa” (=jika rindu, bernyanyi dan berdendang lah).

Saya hendak memaknakan ungkapan “Beta dapa, beta polo, beta kele rapat-rapat” dalam suatu makna yang umum/familiar “par katong orang Maluku/Maluku Utara“.

Beta dapa” (=aku temukan). “Ini akang pung pasang gaga paske” (=maknanya indah sekali). Karena “mau dapa tuh musti cari” (=jika mau, harus dicari), “kalu seng la sapa jua tau ale pung isi hati” (=jika tidak, siapakah yang tahu isi hati anda). “Cari brarti mau” (=anda mencari berarti mau), “kalu dudu harap apa datang, bae kalu!” (=jika duduk berharap apa yang datang, masa sih!).

Ini biasa ditujukan “par mungare-mungare, kalu batul mau pung nona yang pas deng hati” (=untuk para pemuda, jika benar-benar hendak mendapatkan nona yang cocok di hatinya). “Nona-nona lai, musti buka hati lai, kalu seng nyong dong seng tau, dong mau rapat jua dong eleng lai, jang sampe su ada orang yang punya” (=nona-nona juga, harus membuka hatinya, jika tidak, lelaki yang mau mendekat pun jadi berpikir, jangan-jangan sudah ada yang memiliki).

Beta dapa” juga bisa jadi ungkapan umum yang menjelaskan “orangtotua pung isi hati” (=isi hati orangtua). “Ana tuh ana sa, biar kata sapa mau bilang apa lai” (=anak itu tetap anak, apa pun kata orang). “Jadi kalu eso lusa dong su basar la bakumarah laeng deng laeng la satu su pi dari rumah, ka lari par hidop dagang di orang pung gunung tanah” (=jika anak-anak sudah besar dan ada masalah di antara mereka dan ada satu yang pergi ke tanah rantau), “papa deng mama hati ta iris paske” (=hati papa dan mama teriris).

Tidor malang deng pikirang seng abis-abis” (=selalu tidur malam dengan beban pikiran). “Papa deng mama sumbayang deng harap, nyong ka nona bale jua” (=papa dan mama berdoa dengan harapan nyong/nona kembalilah).

Hal-hal itu menerangkan bahwa ungkapan “beta dapa” merefleksikan isi hati seseorang yang “seng mau tapisah” (=tidak ingin terpisah), “macang ada gae-gae” (=seperti ada pengait), atau “macang anyo mar rasa ada batu sao, jadi tarek bale” (=seperti hanyut ke lautan lepas tetapi ada sauh yang bisa menarik kembali). “Kalu ilang jua beta cari sampe dapa” (=jika hilang pun aku cari sampai ditemukan).

Beta polo” (=ku peluk), sebagai tindakan berlanjut dari “beta dapa” maka “beta polo” adalah ungkapan yang menerangkan “kas’ tumpa rindu” (=menumpahkan rasa rindu) karena “pung sanang apa lai” (=sangat senang/bersukacita). Dan ungkapan itu “seng maeng-maeng” (=jujur/tidak dibuat-buat), sekaligus menerangkan “tapisah tuh biking stengah mati, jadi jang lai” (=terpisah itu membuat susah hati, jadi jangan terjadi lagi). Ada yang seperti “palasi” (=tidak mau lagi/tobat) karena “buang badang dari orangtotua deng basudara tuh tar sadap” (=menjauhkan diri dari orang tua dan saudara itu tidak enak).

Dalam konteks “orangtotua deng anana” (=orangtua dan anak), ungkapan “beta polo” harus dipahami dari “mama papa pung piara” (=pemeliharaan mama dan papa). Lebih lagi “mama polo par kasi susu” (=gendongan mama saat menyusui) atau “papa dukung pas jatuh saat ajar bajang” (=rangkulan papa saat anaknya jatuh waktu mengajarinya berjalan). “Cinta itu tar ada dua di dunya, tar ada yang tanding” (=cinta itu tidak ada duanya di dunia, tiada tandingannya). “Itu yang biking rindu seng abis-abis” (=itu yang membuat rindu tiada habisnya).

Beta kele rapat-rapat” (=kugandeng tanganmu erat-erat), suatu ungkapan yang menegaskan “beta pung nih” (=ini kepunyaanku). Semacam proklamasi bahwa “ini beta pung” (=ini milikku).

Jadi “kele” itu semacam legalisasi kepemilikan yang menyatakan “beta pung” (=kepunyaanku). Maka “kele yang batul” (=bergandenganlah yang benar), malah sering diucapkan pula “jang sampe salah kele” (=jangan sampai salah menggandeng tangan).

Bagi Jujaro-Mungare, “kele” adalah tindakan yang menerangkan “ini beta pung nona/nyong” (=ini kekasihku) dan biasanya ungkapan itu menerangkan saat “katong kaweng” (=menikah). Dalam relasi orangtua-anak, “kele” menegaskan “ini beta pung ana” (=ini anakku), “ini beta pung mama deng papa” (=ini mama dan papaku), “biar kata orang mau bilang apa lai” (=walau orang mau berkata apa pun).

Kele” tidak berhenti pada pernyataan “beta pung” (=kepunyaanku), tetapi sekaligus menandakan komitmen “beta jaga” (=kujaga) dan yang dijagai itu adalah “yang beta pung“. “Kalu seng beta la sapa lai?” (=jika bukan saya, siapa lagi). “Mau harap orang jaga katong pung, sio bae kalu dia lia deng babae lai” (=mau mengharapkan orang mempedulikan milik kita, apakah dia bisa memperhatikannya dengan baik?).

Kele” juga mengantar komitmen “beta kumpul” (=kukumpulkan). Artinya “jang tacere lai” (=jangan tercerai lagi). “Biar rumah nih kacil, cuma tidor di tapalang, mar katong sama-sama jua” (=walau rumah kita kecil, hanya tidur di dipan, baiklah kita tetap bersama-sama). “Biar makang di meja makang kasiang, tapiara deng papeda kuah tomi-tomi, katong sama-sama jua” (=walau makan seadanya, papeda dan kuah tomi-tomi, kita bersama saja).

Kele” juga menegaskan “katong su taika jadi satu” (=kita sudah terikat menjadi satu), “jadi seng ada yang bisa pisah” (=jadi tidak ada yang bisa pisahkan).

Jadi kalu se pi lai, beta cari sampe dapa, beta polo krep, beta kele rapat-rapat” (=jadi jika anda pergi lagi, aku mencari sampai kutemukan, kupeluk erat, dan kugandeng tanganmu erat-erat).

Sabtu, 18 September 2021
Wailela, Kotamahu, Rumahtiga

 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button