Telusur Sejarah

Menelusuri Jejak Pemimpin Gerakan 30 September 1965 Lektol Untung Sutopo Bin Syamsuri di Kaimana Papua Barat

MENGULIK JEJAK SEJARAH

Operasi Gagak dengan sasaran Kaimana dan Merauke, juga menggunakan dua Hercules yang dipimpin oleh Mayor (U) Pribadi dan wingman Mayor (U) T.Z. Abidin. Pesawat berangkat dari Letfuan dengan membawa 141 anggota Batalion 454 Banteng Raiders Diponegoro di bawah pimpinan Mayor (Inf) Untung Supono Syamsoeri. Mereka akan diterjunkan di sekitar Kaimana.

Sementara Operasi Alap-alap dilaksanakan dari dua Hercules dengan pimpinan Mayor (U) Nayoan dan wingman Kapten (U) Santoso Suharto. Pesawat berangkat dari Amahai dengan membawa 132 anggota PGT yang akan diterjunkan di daerah Merauke.

Pasukan yang dipimpin Letnan (U) II Matitaputty itu bertugas untuk memperkuat pasukan RPKAD yang telah diterjunkan terlebih dahulu pada 23 Juni 1962 dalam Operasi Naga dipimpin Mayor Benny Moerdani.

Baca JugaTelusuri Bangunan Pillbox di Manokwari, Jejak “Threatre of Pacific” di Bumi Kasuari

OPERASI JATAYU GUGUS TUGAS (HIMPUNAN) GAGAK DI KAIMANA

Jatayu adalah nama tokoh protagonis dari wiracarita Ramayana, putra Aruna dan keponakan Garuda. Ia merupakan saudara Sempati. Ia adalah seekor burung yang melihat bagaimana Dewi Sita (Sinta) diculik oleh Rawana (Rahwana). Ia berusaha melawan tetapi kalah bertarung dan akhirnya mati. Kisah ini kita temukan dalam Kitab Ramayana dan Purana.

Jatayu adalah nama populer untuk anak laki-laki. Nama Jatayu paling cocok untuk nama depan. Misal seperti Jatayu Nuryansyah, Jatayu Pambayun Abimanyu, Jatayu Kencana Wisnu dan lain-laim. Di Indonesia, nama ini paling banyak ditemukan di daerah Semarang, Magetan, Purwokerto, Banyumas dan Kediri.

Nama Jatayu melambangkan ambisi yang membaja. Jika nama seseorang Jatayu, ia adalah orang yang tak henti-hentinya berupaya meraih apa yang diinginkan dalam hidup. Orang ini mencari pasangan yang sepadan secara intelektual atau yang lebih pintar lagi. Oleh sebab itu, mungkinan tidak mengherankan apabila nama sandi operasi disebut Jatayu, sedangkan gugus tugasnya adalah Gagak.

Langit Kaimana subuh, 14 Agustus 1962. Dari pesawat Hercules, 141 pasukan elit dari Batalyon 454/Diponegoro terjun senyap-senyap. Payung-payung terbuka memenuhi udara. Pasukan ini dipimpin oleh Mayor Untung Sutopo bin Syamsuri. Nama sandi operasinya Jatayu. Sedangkan nama gugus tugasnya “Gagak”.

Baca JugaKunjungi Lokus Perang Wamsisil di Saparua, Menguak Sosok Misterius Pattimura

Mayor Untung Syamsuri dan anak buahnya diterjunkan di Lembah Gunung Genova, Arguni. Dia disambut sebagai pembebas. Di Kaimana, banyak masyarakat pendukung Indonesia. Hamzah Furu, Kepala Kampung Seraran, ikut membantu pasukan penerjun payung pimpinan Untung.

Hamzah, juga merangkap Wakil Komandan GRIB. Hamzah jadi penghubung Pasukan Gagak dengan masyarakat di Teluk Arguni. Dia memobilisasi orang kampung.  Menyediakan perahu untuk mengangkut tentara Indonesia. Hamzah Furu bersama Abdullah Werfete, juga membantu penyusupan dan penerjunan pasukan-pasukan TNI lainnya dari Teluk Arguni sampai dengan Teluk Etna.

Mereka memberitahukan sandi kapal-kapal atau perahu-perahu yang mengangkut pasukan TNI, membawa bendera bertulis “Aray”. Artinya “Ipar”. Masyarakat setempat mengumpulkan hasil kebun seperti sagu, keladi dan pisang untuk pasukan payung. Bahkan, masyarakat membawakan peralatan-peralatan tentara termasuk peluru. Dari Kampung Seraran, mereka bergerak turun sampai ke Siser I. Mayor Untung Syamsuri membangun basis pertahanannya di Kampung Sisir.

Mantan pegawai telekomunikasi Belanda di Biak, Abdul Qodir Kurita berkisah, informasi penerjunan pasukan Trikora di Teluk Arguni, sebenarnya sudah diendus oleh Belanda. Stasiun Telekomunikasi Jayapura, juga menyampaikan tentang penerjunan pasukan payung di sekitar danau Siwiki dan danau Karara di Teluk Arguni.

Baca JugaPencipta Pataka Kodam XVI/Pattimura itu Kini Telah Tiada

Akibatnya, sebagian pasukan Trikora tertangkap atau tertembak mati oleh tentara Belanda. Menurut catatan resmi pasukan khas TNI-AU, jumlah total personel dari TNI, Polri dan relawan yang terlibat selama Trikora adalah 1.419 personel. Sebanyak 216 orang gugur atau hilang. 296 orang tertangkap.

Prof. Cahyo Pamungkas dalam bukunya berjudul “Sejarah Lisan Integrasi Papua ke Indonesia: Pengalaman Orang Kaimana pada Masa Trikora dan Pepera”, banyak menyebutkan kesaksian para saksi mata dan pelaku sejarah terkait Operasi Jatayu di Kaimana. Peneliti pada Pusat Penelitian Sumberdaya Regional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI, kini BRIN) itu mendedah dengan detil pandangan saksi mata.

Untung Sutopo Bin Syamsuri
Presiden Soekarno.(Foto: Dok. Penulis)

Penanggung jawab seluruh operasi penerjunan payung itu adalah Panglima Angkatan Udara Mandala, Komodor Leo Wattimena. Martinus Naguasai, tokoh masyarakat Forumajaya menyebut, sasaran penerjunan pasukan Trikora di Kaimana adalah di Pasir Putih (20 km dari Kaimana Kota) dan Tofromi (dekat Sisir, Kaimana).
Menurutnya, untuk menangkal penerjunan tersebut, Tentara Belanda membagikan senjata api ke tokoh-tokoh masyarakat kampung, untuk melawan tentara Indonesia.

Dua anggota pasukan TNI tertembak, pada saat menokok sagu di Esetna. Itu   karena penduduk setempat melapor kepada Pejabat berwenang lokal (Hoofd van Platselijk Bestuur) Kaimana. Belanda langsung mengirimkan pasukan dan menembak mati kedua serdadu Indonesia itu.

Baca Juga: Hikayat Tanah Hitu dan Kewafatan Mihirjiguna

KESAKSIAN SAKSI MATA DAN PELAKU SEJARAH DI KAIMANA

Oktavianus Safara, saksi sejarah dari Kampung Morano memiliki cerita berbeda. Menurutnya pernah ada operasi penyerangan TNI terhadap pos Belanda di kampungnya. Pos itu dijaga ratusan tentara Belanda dan orang Papua. Tentara Indonesia ragu menembak. Karena lawan yang dihadapi ialah orang Papua. Konon, Presiden Soekarno melarang para tentara Indonesia menembak orang Papua. Karena dianggap sesama saudara dan bagian dari Indonesia.

Dipan Werfete, seorang saksi sejarah dari Kampung Gusimawa, Teluk Arguni, menceritakan pasukan payung yang diterjunkan di Kaimana mendapat tembakan dari tentara Belanda. Tetapi karena malam hari, tembakan mereka tidak ada yang mengenai sasaran. Setelah itu, tentara dan polisi Belanda mempersiapkan persenjataan lengkap. Termasuk meriam-meriam di sepanjang pantai dari Pasir Putih sampai Coa.

Pada waktu malam, pasukan Indonesia turun menyerang pangkalan Belanda. Belanda menempatkan polisi dan Papoea Vrijwilligers Korps (PVK) atau korps relawan yang terdiri orang Papua di garis terdepan.
Tapi cerita tentang orang Papua yang jadi polisi Belanda dan membunuh tentara Indonesia, dibantah oleh saksi sejarah Teriyanus Kotipura, mantan Mobile Police.

Baca Juga: Irjen Pol. Marthinus Hukom;  Kebanggaan dan Dedikasi Putera Maluku untuk Bangsa di HUT RI dan Maluku ke-77

Dia mengaku turut menangkap pasukan Trikora di beberapa tempat seperti di Karora, Berari, Seraran, Sisir, dan Tanggaromi. Tapi pihaknya mengklaim tidak menembak tentara Indonesia. Sebab ada instruksi dari pemerintah Belanda, tidak menembak pasukan Indonesia, jika mereka tidak melawan dengan tembakan.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button