Kutikata

Jang Paksa

KUTIKATA

Oleh: Elifas Tomix Maspaitella (Eltom) – Pemerhati Sosial


Musti karja deng nanala, mar jang paksa diri, ambel napas sadiki lai” (=harus bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan memaksakan diri, istirahatlah sejenak). Sebab “kuat tuh ada batas” (=kekuatan kita ada batasnya).

Jang paksa” karena bila sudah waktu untuk “ambel napas” (=istirahat) maka “sampe dolo” (=cukuplah). Pada waktu yang sudah ditentukan untuk “karja, karja deng nanala, jang karja pancuri tulang” (=kerja, kerja dengan sungguh-sungguh, jangan kerja curang), “jang rajing tajang bulu” (=jangan rajin yang dibuat-buat), “jang karja sasabarang” (=jangan membuat kesalahan dalam bekerja), “jang karja sapsele/caparuni” (=jangan bekerja yang hasilnya menghancurkan/tidak teratur).

Baca Juga: Jalang Hidop

Jang paksa” sehingga pada waktu “ambel napas” kita bisa berhenti sejenak, “bukang tidor sono yang tar inga waktu” (=bukan tidur sampai lupa waktu), karena “karja ada tambong” (=beban kerja banyak), tetapi “musti karja ukur-ukur kuat lai” (=harus bekerja sesuai batas kekuatan/kemampuan), karena kita pun bukan “kuda kanyang” (=budak pekerjaan ~istilah ini lebih menjurus pada perilaku seseorang mengeksploitasi diri seorang saudara untuk bekerja bagi keuntungan dirinya tanpa imbalan yang sesuai).

Jang paksa” karena “ambel napas sadiki supaya bisa lia akang hasil lai” (=beristirahat sejenak agar bisa melihat hasilnya pula). “Kalu mau paksa jua skang po’a la tulang blakang bengko” (=kalau mau paksa nanti kelelahan dan punggung sakit parah) “konci rekeng tar bisa makang apapa” (=akhirnya tidak bisa menikmati hasilnya). Jadi “ambel napas sadiki la lia akang hasil, itu yang Antua su kasih” (=istirahatlah sejenak dan nikmati hasilnya, itu pemberian Tuhan).

Jang siksa diri” (=jangan menyiksa diri untuk bekerja), “apalai su deng umur” (=apalagi sudah berumur/tua), “su deng rambu putih tuh, jang paksa” (=sudah beruban, jangan memaksa diri bekerja), “kas tinggal par dawar-dawar muda nih dong ambel bageang lai” (=biarkan anak-anak kita yang belia ini memainkan peran mereka), agar kita bisa “angka puji par Antua, tagal tampa tangang su ada” (=bersyukur untuk Tuhan, karena sudah ada hasil kita bekerja).

Har’ Sadu (=Sabtu) 12 Juni 2021
Selamat “konci usbu”

Pastori Sinode GPM, Jl. Kapitang Telukabessy-Ambon


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Lihat Juga
Close
Back to top button