Seram Bagian Barat

Jalan Tuagama: Kunci Kemajuan Ekonomi dan Pendidikan Jemaat GPM Neniari Taniwel Seram Barat

Pendeta Farsel Lepertery baru enam bulan mengemban tugas sebagai Ketua Majelis Jemaat GPM Neniari, Klasis Taniwel. Setelah serah terima jabatan, beliau langsung bergerak cepat mempersiapkan pelaksanaan Sidang ke-43 Klasis Taniwel.

Neniari merupakan jemaat pertama bagi Pendeta Farsel. Menyelenggarakan Sidang Klasis bagi pendeta baru merupakan tantangan tersendiri, mengingat beliau harus segera beradaptasi dengan warga gereja, mengevaluasi kinerja panitia, dan memastikan semua berjalan lancar. Terlebih, Neniari adalah jemaat kecil dengan 130 kepala keluarga dan 592 jiwa, terbagi dalam 3 sektor dan 6 unit pelayanan. Potensi warga usia produktif pun terbatas.

Pria yang akan berusia 30 tahun pada 22 Mei 2025 ini bersyukur atas antusiasme tinggi warga gereja dalam mendukung kegiatan bergereja.

Dari pengalamannya mempersiapkan sidang, beliau melihat banyak potensi sumber daya alam yang bernilai ekonomi dan dapat meningkatkan kesejahteraan warga Neniari.

Hasil kebun seperti kelapa, sayur-mayur, pisang, bahkan damar, memiliki nilai ekonomis dan dapat diolah oleh setiap keluarga.

Jalan Tuagama
Foto: Dok. Media Center Sinode GPM

Namun, potensi tersebut belum memberikan nilai ekonomi tinggi karena kesulitan distribusi ke pasar kecamatan di Taniwel, apalagi ke Piru atau Kota Ambon.

Dalam nada ironi, beliau mengungkapkan bahwa sistem barter masih terjadi, yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan yang memerlukan uang tunai.

Faktor penghambat utama adalah kondisi infrastruktur jalan yang kurang memadai. Ketersediaan jalan raya yang baik sangat diperlukan, setidaknya agar kendaraan dapat masuk untuk mendistribusikan potensi ekonomi tersebut.

Tanpa sarana transportasi yang memadai, satu-satunya komoditas yang dapat dibawa ke pasar tanpa risiko rusak adalah damar.

Namun, petani harus menempuh perjalanan jauh ke hutan untuk mengambil damar, kemudian memikulnya ke desa, beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan ke Rumahsoal atau Riring untuk menjualnya.

Situasi ini menimbulkan persepsi bahwa hanya damar yang dapat dijual, padahal sayuran seperti labu siam melimpah di Neniari.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2Next page

Berita Serupa

Back to top button