Desa Kaibobu Gelar Upacara Buka Sasi 2025
potretmaluku.id — Masyarakat pesisir Desa Kaibobu menggelar upacara Buka Sasi, menandai dibukanya kembali area tangkap perikanan tradisional setelah masa penutupan.
Penerapan Sasi menegaskan hak adat masyarakat dalam mengelola wilayah pesisir, memulihkan stok ikan, dan mendukung pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan.
Buka Sasi ini berlangsung di Pantai Kaibobu, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, dengan prosesi adat, pertunjukan seni budaya, dan pembacaan tanda buka oleh para tetua adat.
Selain masyarakat setempat, acara turut dihadiri Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, Pemerintah Kabupaten SBB, serta para pemangku kepentingan lainnya.
Upacara Buka Sasi berlangsung sakral, yang dipimpin oleh para Tua Adat Desa Kaibobu. Turut meresmikan acara ini adalah Wakil Bupati Seram Bagian Barat, Stefanus Kainama.
Dia mengatakan, melalui pelaksanaan Sasi masyarakat menerapkan prinsip-prinsip konservasi. Dalam kontek pembangunan daerah, praktik Sasi memiliki relevansi yang kuat dengan arah kebijakan pembangunan bekelanjutan, khususnya pada dimensi ekologi dan sosial budaya.
“Kelestarian Sasi tidak hanya berfungsi sebagai menkanisme adat untuk menjaga ekosistem laut, tetapi juga sebagai isntrumen sosial dalam memperkuat kohesi masyarakat, membangun solidaritas dan lain-lain,” ujar Kainama.
Dia berharap, Buka Sasi dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat Kaibobu dan sekaligus melestarikan alam laut demi generasi mendatang.

Kegiatan adat ini menjadi momentum penting bagi warga Kaibobu untuk menegaskan kembali kewenangan mereka dalam menjaga sumber daya alam berdasarkan nilai kearifan lokal.
Sasi adalah salah satu tradisi Maluku yang menetapkan periode larangan pemanfaatan sumber daya laut maupun darat, memberi kesempatan ekosistem pulih sebelum dimanfaatkan kembali.
Kepala Desa Kaibobu, Alex Uhuwael, berharap upacara Buka Sasi kali ini dapat memperkuat kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah, dan pihak pendukung untuk mengelola sumber daya perikanan di desanya.
“Sasi bukan sekadar tradisi, tetapi sistem pengelolaan sumber daya yang selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Kami juga ingin para generasi muda memahami, menghargai, dan melestarikannya,” ujarnya.
Pengelolaan Perikanan Berbasis Komunitas
Sasi di Kaibobu mulai berlaku akhir 2023 dan berlangsung selama dua tahun, mencakup area Hatupokor, Sartetu, Lahkana, Sandrahuhi, dan Motiela dengan total luas mencapai 823,82 hektare.
Revitalisasi praktik Sasi difasilitasi Yayasan SAHARI dan Blue Ventures, mendukung penguatan pengelolaan perikanan skala kecil berbasis masyarakat.
Sejak 2023, masyarakat nelayan Kaibobu telah melakukan pendataan perikanan secara mandiri. Selama periode penutupan Sasi, total tangkapan nelayan tradisional mencapai lebih dari 19 ton, terdiri dari lebih dari 100 spesies ikan bernilai ekonomi tinggi.
Pendapatan nelayan sebelum pembukaan Sasi tercatat sekitar 330 juta rupiah selama hampir dua tahun. Dengan dibukanya Sasi, masyarakat berharap nilai tangkapan dan pendapatan dapat meningkat seiring pulihnya stok ikan dan semakin terkelolanya sumber daya perikanan.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



