Pendapat

In Memoriam: Servant Leadership Ongky Louhenapessy

Dan itu bukan yang pertama. Berulang kali almarhum mengirimkan saya pulsa, hanya demi memastikan anak magangnya ini bisa bekerja dengan lancar dan tanpa beban di tanah rantau.

***

Tujuh bulan berlalu di Seram Bagian Timur. Jarak boleh saja membentang jauh antara Bula dan Ambon, namun perhatian redaksi tidak pernah putus. Setiap kali rapat evaluasi kinerja diadakan, kabar perkembangan status saya selalu disampaikan; dari wartawan magang, naik menjadi calon reporter, hingga akhirnya dikukuhkan menjadi reporter tetap.

Di penghujung tahun 2010, saya akhirnya kembali ke Ambon.

Suatu malam yang dingin di ruang redaksi, saya mendapat jadwal piket malam untuk memeriksa salah ketik (typo) pada halaman-halaman koran sebelum naik cetak. Malam itu kondisi fisik saya drop. Saya duduk melorot di kursi, terbatuk-batuk keras berulang kali.

Di hadapan saya, di balik pintu kaca transparan, adalah meja kerja almarhum Bapa Ongky. Mendengar kegaduhan dari batuk saya, beliau keluar dari ruangannya dan melangkah menghampiri.

“Jaya, kenapa…?” tanya almarhum dengan nada beratnya yang khas, tersirat rasa cemas seorang ayah.

“Batuk biasa saja, Bapa Ongky,” jawab saya sungkan.

Beliau tidak banyak bicara lagi. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyodorkannya kepada saya.

“Ambil uang ini, lalu pigi beli obat sudah, Jaya.”

***

Untaian kisah ini hanyalah serpihan kecil dari samudra kebaikan almarhum Ongky M. Louhenapessy. Beliau bukan sekadar pemimpin; beliau adalah kompas moral yang mengajarkan apa artinya kepemimpinan yang melayani (servant leadership).

Bung Ongky, ragamu boleh saja telah rampung menunaikan tugas di dunia, tetapi kebaikan dan caramu memanusiakan kami akan tetap abadi, hidup, dan bernapas dalam ingatan.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3 4

Berita Serupa

Back to top button