In Memoriam: Servant Leadership Ongky Louhenapessy
Tanpa ragu, saya langsung mengangkat tangan. “Saya bersedia, Ibu Lo.”
Ibu Lo tidak langsung mengiyakan. “Nanti akan disampaikan ke pimpinan ya, Jaya,” ujarnya tegas.
Setelah rapat bubar, giliran rasa ragu yang mengetuk kepala saya. “Beta ini masih reporter magang, tidak mungkin dipilih. Apalagi pekerjaannya berat sekali.”
Namun tiga hari kemudian, kabar baik itu datang juga dari Ibu Lo. “Jaya, pemimpin sudah setuju. Nanti Jaya berangkat ke Seram Bagian Timur.” Kabar itulah yang menjadi gerbang awal perjalanan saya ke kabupaten bertajuk Ita Wotu Nusa tersebut.
Sebelum hari keberangkatan tiba, Pemimpin Redaksi Freedom Toumahuw mengajak saya ke sebuah toko ponsel di Jalan AY. Patty.
“Bapa Ongky bilang, beli ponsel yang ada fitur MMS buat Jaya. Supaya Jaya seng susah pas kirim foto liputan nanti,” jelas Pak Freedom.
Mendengar itu, bahagianya bukan kepalang. Ponsel layar hitam-putih milik saya hari itu resmi berganti dengan layar berwarna. Dengan modal gawai baru dan semangat yang membuncah, saya pun bertolak ke Seram Bagian Timur.
Seminggu berlalu di Kota Bula. Ketika malam baru merangkak naik dan kesunyian mulai memeluk kota, ponsel saya berdering bertalu-talu. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang belum tersimpan. Saya membukanya perlahan. Di layar tertera tulisan: “Jaya, ini Bapa Ongky.”
Tak lama, telepon kembali berdering. Suara berat yang khas itu langsung menyapa.
“Jaya, ada foto MK deklarasi selain yang su dikirim?”
Saya tahu diri, foto yang saya kirim sebelumnya memang tergolong jelek. “Tidak ada lagi, Bapa Ongky,” jawab saya pelan, pasrah.
“Oke, kalau begitu nanti ketemu Ongkie Anakoda. Kebetulan dia juga ada di Bula. Bapa Ongky su telepon dia,” ujar almarhum tenang, langsung memberi solusi tanpa sedikit pun menghakimi keteledoran saya.
“Tapi Bapa Ongky… beta seng ada pulsa,” bisik saya malu-malu.
“Iya, nanti Bapa Ongky kirim e…”
Penulis :
Editor :



