AmboinaPuisi

Hasil Lomba Puisi HUT ke-451 Kota Ambon: Dari Dapur Sirimau hingga Lanskap Ingatan

Puisi bergerak dari suasana senja dan angin, masuk ke ruang rumah dan meja makan, kemudian melebar kepada lanskap alam dan musik tradisional, sebelum berakhir dalam suasana kesunyian dan kerinduan.

Bait penutup, “Banyak rindu yang seng sampe”, dinilai menjadi simpul emosional yang kuat. Rindu tidak lagi hanya menjadi perasaan personal, tetapi dapat dibaca sebagai kerinduan terhadap rumah, keluarga, kampung dan kota.

Dewan juri mencatat, secara teknis puisi ini masih memiliki kecenderungan deskriptif dan belum terlalu eksploratif dalam metafora maupun struktur puitik. Namun, kesederhanaan tersebut justru dinilai menjadi kekuatannya karena mampu mempertahankan kejujuran suara, keakraban bahasa dan otentisitas pengalaman Ambon.

Atas pertimbangan tersebut, “Senja di Kaki Gunung Sirimau” ditetapkan sebagai Juara I.

Sementara itu, “Membaca Ambon Dalam Diri Seseorang” karya Narapetra ditetapkan sebagai Juara II.

Jika Ambon dalam karya Juara I hadir melalui rumah dan keseharian, Narapetra membawa Ambon ke dalam tubuh, ingatan, suara, sejarah dan pengalaman batin manusia.

Gagasan sentral puisi ini adalah bahwa sebuah kota dapat ditemukan di dalam diri seseorang.

Metafora mata sebagai ruang “pulang”, rambut sebagai gelombang pasang surut, serta tubuh sebagai lanskap Ambon membuat kota tidak lagi sekadar menjadi ruang geografis.

Penggunaan simbol budaya seperti batu pamali, kapata serta ungkapan tradisional “Sei hale hatu, hatu lisa pei” dan “Sei lesi sou, sou lesi ei” turut memperkuat dimensi kultural karya tersebut.

Gagasan bahwa “Ambon tidak pernah meminta dikenang, ia meminta untuk tetap hidup”menjadi salah satu titik penting yang dinilai dewan juri. Ambon ditempatkan sebagai sesuatu yang diwariskan melalui bahasa, suara, ingatan dan nilai-nilai antargenerasi.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button