AmboinaPuisi

Hasil Lomba Puisi HUT ke-451 Kota Ambon: Dari Dapur Sirimau hingga Lanskap Ingatan

Keenam karya tersebut dinilai memiliki daya tarik khusus dan mampu membangun hubungan emosional dengan pembaca.

“Di Laut, Ambon Menyimpan Pulang” menonjolkan laut sebagai ruang ingatan, leluhur, sejarah dan kepulangan, sekaligus menghubungkannya dengan nilai pela gandong.

“Pamali” menawarkan kekuatan melalui ingatan terhadap adat, tradisi dan leluhur. Penyebutan mandi safar, dupa, aroha, tatua, pinang, tungku hingga berbagai pantangan adat membuat karya ini kuat secara referensi budaya.

Sementara “Pulanglah… Ini Rumahmu” menghadirkan Ambon secara luas melalui Teluk Ambon, Leitimur, Sirimau, laut, pasar, Jembatan Merah Putih, tifa, ukulele, pela gandong, sagu dan kapata. Motif “pulang” menjadi benang merah yang mengikat identitas kota dengan generasi mudanya.

“Aku Mencintaimu” tampil melalui pendekatan romantik terhadap Ambon. Laut, pantai, pasir, ombak, karang, penyu, teripang, morea, angin dan nyiur menjadi metafora cinta yang kemudian berkembang menjadi pesan persaudaraan dan toleransi.

Sedangkan “Ambon dalam Kata dan Cinta” dinilai kuat karena kesederhanaan bahasa, kehangatan serta kedekatannya dengan pengalaman orang Ambon, terutama gagasan tentang rumah dan kerinduan bagi mereka yang berada jauh dari tanah kelahiran.

Adapun “Asa Ku, Maluku” menonjol melalui semangat optimisme dan kecintaan terhadap Maluku. Laut, mata air, bukit, cengkeh, pala, lola, mutiara, sagu, gamutu dan Gunung Binaiya menjadi bagian dari lanskap yang digunakan penyair untuk menyampaikan harapan.

Secara umum, dewan juri menilai keenam puisi favorit tersebut memperlihatkan keberagaman cara memaknai Ambon dan Maluku.

Ada yang menemukan Ambon melalui laut dan persaudaraan, ada yang melalui adat dan pamali, kerinduan untuk pulang, cinta dan toleransi, pengalaman personal, hingga harapan terhadap masa depan Maluku.

Keragaman itu sekaligus memperlihatkan bahwa dalam usia ke-451, Ambon tidak berhenti sebagai ruang geografis. Ia terus hidup dalam bahasa, ingatan, budaya, cinta, kehilangan dan harapan orang-orang yang pernah atau sedang menjadikannya rumah.(TIA)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4

Berita Serupa

Back to top button